Ini part tersulit juga. Revisit my childhood memories.
..........................
*menghela nafas panjang*
*minum seteguk air*
...........................
Menyadari bahwa ada sosok kecil dalam diri ini yang masih merengek dan meronta-ronta adalah sebuah hal baru dalam perjalanan ini. Tapi, aku juga sempat menyesali kenapa baru sekarang aku menyadari keberadaannya? Walaupun sebenarnya engga perlu ada yg disesali, karena lagi-lagi Rabb-mu yang lebih tau kapan kamu siap untuk menyadarinya. Everything has a right time. Emosi di masa kecil yang belum tuntas dan kepingan-kepingan memori di masa itu yang menciptakan banyak tanya untuk orang dewasa ini... Apa ia cukup berharga?
Anak kecil yang belum banyak tau tentang aturan dunia. Anak kecil yang masih butuh banyak bantuan untuk mengartikan semua perasaan dan pikiran-pikiran yang ada dalam dirinya. Namun, saat itu tidak ada yang membantunya.
***
And now i'm 26. Aku kembali, melihat sosok anak itu dalam diriku. And i found myself can smiling when i revisit again the little of me inside. Pada titik ini, saat ini, saat aku membuat tulisan ini, aku merasa tidak perlu memisahkan my inner child dengan my inner adult. Both are part of me. Apa yang terjadi atau aku rasakan saat ini mungkin memang ada akibat dari masalah inner child ku yang kurang menyenangkan, tapi itu bukan berarti aku yang sekarang tidak bisa berbuat apa-apa. Apa yang terjadi sekarang, apa yang aku rasakan sepenuhnya adalah masalahku sekarang, tidak perlu lagi aku menyalahkan atau menghubungkan dengan inner child ku. Meskipun.. hmm, baiklah, memang masih ada perasaan tidak nyaman yang tanpa sadar memanggil kembali anak kecil yang bersemayam didalam diriku. Tapi, aku sudah tau polanya. Aku tau kemana aku harus mencari bantuan dan aku memiliki banyak opsi untuk mengatasinya. Aku bisa mengandalkan diriku.
***
Sebagai anak kecil, saat itu yang aku inginkan adalah sakitku ini diperhatikan dan dimengerti. Rasanya hanya terobati jika aku diperlakukan baik, dibelikan makanan atau mainan kesukaanku atau bahkan hanya satu pelukan hangat sudah cukup, sehingga aku bisa memaafkan dan bahkan mungkin melupakan.
Kini, sebagai orang dewasa, aku mampu menyadari bahwa aku tidak bisa mendikte orang lain untuk begini dan begitu. Dan aku harus merdeka dari orang lain. Perasaanku adalah tanggung jawabku. Manusia begitu kompleks. Bisa jadi orang lain menyakitimu dan di lain waktu aku yang menyakiti orang lain. Memaafkan dan memanusiakan mereka yang membuatku terluka adalah pilihan yang bisa kuambil. Dan aku memilih untuk memaafkannya dan melanjutkan hidupku. Aku tidak punya kuasa untuk mengatur apa yang boleh dan tidak boleh terjadi. Allah yang mengijinkan itu terjadi, maka aku harus meyakini bahwa semuanya baik.
Komentar
Posting Komentar