Duluu
sekali,
ketika pertama kali aku memutuskankan untuk membenahi penampilanku dengan hijab, pernah
terbesit di pikiranku, “Seandainya dulu mama sama ayah mewajibkan aku
berkerudung dari kecil, mungkin ngga akan seberat ini untuk menyempurnakan
hijabku.” Pernah ada sesal. Tapi kemudian bersyukur. Aku bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk akhirnya menyadari hal ini.
Selama empat tahun aku merantau ke Bandung dan disanalah perjalanan spiritualku dimulai. Aku seakan diasingkan dari keluargaku, teman-temanku dan dari 'habits' ku dulu untuk memulai langkah baru dengan pandangan baru, petualangan baru dan orang-orang baru. Aku seperti gelas kosong yang akan diisi dengan air sedikit demi sedikit.
Selama empat tahun aku merantau ke Bandung dan disanalah perjalanan spiritualku dimulai. Aku seakan diasingkan dari keluargaku, teman-temanku dan dari 'habits' ku dulu untuk memulai langkah baru dengan pandangan baru, petualangan baru dan orang-orang baru. Aku seperti gelas kosong yang akan diisi dengan air sedikit demi sedikit.
Aku
belajar banyak. Mindsetku mulai berubah. Cara pandangku tentang hidup ini juga
berubah. Ilmu agama, ilmu tentang kehidupan aku dapatkan disana.
Ilmu-ilmu yang mungkin tidak pernah kudapatkan dari mama dan ayah. Nasehat-nasehat yang
mungkin juga tidak pernah diucapkan oleh mereka.
Lalu
suatu hari, aku ngobrol sama mama. Aku baru aja membaca kisah tentang
seorang pemuda yang hidup di zaman Rasulullah yang sangat sholeh. Ia hanya
hidup bersama ibunya. Ibunya buta, sehingga hanya bergantung pada anak
sematawayangnya. Suatu hari, sang anak meminta ijin untuk ikut berjihad bersama
Rasulullah di medan perang, namun ibunya tidak merestui. Akan tetapi, sang anak
tetap bersikeras ikut berjihad demi mendapat pahala jihad bersama Rasulullah.
Ia berangkat berjihad tanpa adanya ridho ibunya. Lalu ibunya sangat sedih dan
marah lalu berdo’a kepada Allah, berdoa agar anaknya celaka. Hatinya mungkin
sangat terluka ketika anaknya tidak mengindahkan kata-katanya. Lalu benar saja
anak itu pulang dengan keadaan yang sangat mengenaskan, penuh luka. Lalu hati
ibunya menyesal dan berdo’a lagi kepada Allah untuk kesembuhan anaknya.
Lalu
aku menceritakan kisah itu sama mama. Aku berkata pada mama, “Mah, do’akan yang
baik-baik untukku yah. Do’a ibu itu didenger banget sama Allah. Kalo lagi kesel
sama wina, sumpahin gitu biar wina sukses, hehe.” Lalu mama mulai bercerita,
“Waktu kamu mau kuliah di Bandung, mama khawatir banget. Takut kamu
kenapa-kenapa. Mama cuma do’a aja supaya Allah lindungi kamu.”
Jlep! Denger hal itu bener-bener membuat aku menyesal. Aku pernah mengeluh karena aku
tidak mendapatkan banyak ilmu agama dari ayah dan mama. Aku pernah kesal,
karena mama tidak mendukung secara penuh keputusanku untuk menyempurnakan
hijabku. Aku bahkan pernah jumawa dan menganggap diriku sudah lebih sempurna ibadahnya dibandingkan mereka. Astaghfirullah!
Padahal…
Padahal…
Aku
terhindar dari bahaya ketika di Bandung, karena do’a mama, do’a ayah.
Aku
bertemu dengan orang-orang baik, karena do’a mama, do’a ayah.
Aku
bisa mendapatkan ilmu agama dari berbagai guru hebat disana, karena do’a mama,
do’a ayah.
Aku
bisa lebih baik mengenal agama dan Rabb-ku, karena do’a mama, do’a ayah.
Karena
mama meminta Allah langsung untuk melindungiku. Karena mama menitipkan aku
kepada Allah Yang Maha Menjaga.
Saat
mama berkata seperti itu, aku berbisik dalam hati. “Ya Allah, Engkau sedang
menegurku, yah? Iyah, ya Allah aku harusnya banyak banyak bersyukur karena
Engkau menjadikan mereka sebagai malaikat pelindungku di dunia. Mungkin mereka
tidak memberikanku banyak pengetahuan tentang agamaMu, tapi karena do’a mereka
lah, petunjuk-petunjuk itu datang padaku.”

Komentar
Posting Komentar