Langsung ke konten utama

#Sudutpandang : Menjadi IBU [Part II]


Hallo! Masih bersama aku dan pikiranku. Dan masih dengan aku yang belum menjadi ibu, hehe. Tapi, pembahasan tentang peran ibu tetap menjadi topik yang menarik perhatianku. Entah mengapa. Aku pernah membahas tentang topik ini sebelumnya, sekitar dua tahun silam. Dan aku ingin menuangkan pikiranku kembali tentang menjadi seorang ibu… tentang wanita yang akhirnya menjadi seorang ibu.

Aku memiliki kakak yang telah melahirkan dua orang anak yang lucu dan menggemaskan. Kakakku bekerja sebagai tenaga medis di sebuah rumah sakit. Ya, kakakku berkarir ditengah perannya sebagai seorang ibu. Beberapa berpendapat kurang setuju dengan apa yang dilakukan kakakku. Sempat beberapa kali anak kakakku sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Juga ada anaknya yang (dirasa) tumbuh kembangnya lamban. Kemana sasaran empuk untuk disalahkan? Tentu kakakku, ibu dari anak itu. Mungkin anak itu kurang diperhatikan, mungkin ibunya terlalu sibuk, dan lain sebagainya. Meskipun aku juga sempat mengiyakan ‘teori’ itu, tetapi ada sisi lain dari keputusan kakakku untuk berkarir yang menurutku juga penting. Dan itulah yang ingin kutuangkan saat ini.

Oke, mungkin aku agak flashback dengan sudut pandangku beberapa tahun silam yang beranggapan jika ibu yang berkarir itu egois karena mementingkan pengembangan dirinya ketimbang pengembangan anak dan keluarganya. Anak dan suami jadi terbengkalai dan keluarga hanya diberikan ‘sisa’ tenaga dan pikiran dari sang Ibu. – begitulah kira-kira sudut pandangku dulu. Dan banyak pula yang beranggapan sama denganku. Banyak juga opini-opini yang aku temui dengan menyudutkan ibu-ibu berkarir ini.

Aku mencoba melihat sisi lain dari situasi ini – Ibu yang berkarir. Sepertinya bukan hanya aku yang sepakat bahwa menjadi ibu itu tidaklah mudah. Mulai dari masa hamil dan melahirkan juga masa pengasuhan yang terus-menerus berlangsung. Tidak ada libur untuk menjadi seorang Ibu. Tekanan demi tekanan ditujukan untuk si Ibu. Mulai dari tekanan tetangga, ibu mertua atau bahkan ibu sendiri, belum lagi kalau dalam internal keluarga kecilnya juga ia dituntut untuk menjadi sempurna, untuk selalu ada. Lalu siapa yang akan memenuhi kebutuhan si Ibu? Kita tidak boleh lupa bahwa ibu juga memiliki jiwa yang butuh berkembang, butuh berinteraksi dan bersosialisasi, jiwa yang memiliki hasrat dan keinginan. Ibu adalah manusia biasa. Beruntung jika itu bisa dipenuhi didalam keluarga kecilnya bersama teman hidupnya. Jika, tidak?

Aku mencoba melihat fenomena ibu yang berkarir ini dari sisi lain. Hal lain yang mungkin seringkali dilupakan untuk dibahas pada topik How to be a good mother adalah bagaimana menjaga kewarasan ketika menjadi seorang ibu. Mungkin pemilihan kata yang aku pakai kurang nyaman dibaca, sementara aku pakai kata itu dulu yah, sambil memikirkan padanan kata yang lebih tepat. :) Ya, menjadi waras ditengah peran menjadi ibu itu penting. Ingat, tugas ibu bukan hanya memastikan anak makan tiga kali sehari, pergi dan pulang sekolah dengan tepat waktu, anak mandi dua kali sehari lalu tidur dan bangun tidur tepat waktu, dan begitu seterusnya. Anak memiliki jiwa yang juga butuh diasuh dan dididik. Anak bukan hanya butuh ibu yang pandai dan cakap dalam mengurusnya tetapi juga butuh ibu yang memiliki jiwa yang sehat. Jiwa dan hati ibu harus hadir dalam masa pengasuhan, sehingga cita-cita memiliki anak yang berakhlak baik dapat tercapai. Memiliki anak yang cerdas secara intelektual mungkin memang mengagumkan, tetapi aku rasa (dari #sudutpandang ku) memiliki kecerdasan secara emosional dan spiritual jauh lebih penting untuk kehidupan seseorang. Dan aku rasa hal itu bisa ditransfer dari ibu yang mampu mengelola emosi nya dengan baik selama masa pengasuhan, sehingga akan meminamilisir terjadinya trauma pada anak. Trauma pada masa kecil atau masa pengasuhan bisa mengganggu kepribadian anak. Maka sangat dianjurkan sekali untuk tidak memarahi apalagi membentak anak di masa-masa golden age nya – dimana kemampuan merekam anak sedang dahsyat-dahsyatnya. Itulah mengapa apa yang terjadi di masa kecil, termasuk trauma akibat pola pengasuhan yang salah bisa sangat memengaruhi kehidupan anak di masa dewasa kelak. --- kira-kira begitulah teori yang aku baca pada beberapa buku Parenting.

Lalu apa hubungannya dengan Ibu berkarir?
Aku mengenal beberapa ibu yang memutuskan berkarir ditengah perannya sebagai seorang ibu dan istri tentunya. Dan aku menggeser sudut pandangku ke sisi lain dan menemukan nilai yang penting dari keputusan mereka. Mungkin faktor ekonomi juga tidak bisa dilepaskan dari keputusan mereka. Namun, beberapa ibu memutuskan berkarir juga untuk menjaga dirinya agar tetap waras. Yeah.. aku pikir kewarasan dalam masa pengasuhan anak itu penting banget, trauma pada masa kecil itu benar-benar harus dihindari. Kita ngga bisa menutup mata bahwa banyak ibu yang kesulitan untuk menjadi ibu. Banyak ibu yang memaki, membentak dan main tangan kepada anaknya yang masih sangat kecil karena kesalahan kecil. Aku yakin jika kesalahan itu dilakukan oleh temannya yang berusia dewasa, si Ibu ga akan memarahi dan memperlakukan temannya seperti yang ia perbuat kepada anaknya. Jika saja si Ibu itu mampu menjaga kewarasannya dan berpikir jernih, harusnya dia sadar bahwa anak itu masih kecil dan masih sebentar sekali dia hidup didunia ini mengetahui nilai-nilai salah dan benar, sehingga ngga pantas untuk dimaki dan dibentak seperti itu. Kejadian ini bukan hanya dari kalangan keluarga ekonomi menengah kebawah tetapi juga menengah keatas. Menjadi ibu di era sekarang ini memiliki beban tersendiri. Menurutku, ibu harus memiliki mental health yang baik. Bukan.. bukan maksudku orang yang memiliki masalah dalam mental health itu tidak bisa menjadi ibu yang baik, tetapi, penting sekali bahwa orang-orang disekitar ibu menjadi support system yang baik untuk ibu itu sendiri. Ibu yang memiliki hati yang luas dan jiwa yang damai tentunya bisa menentramkan dirinya juga keluarganya.

Untuk beberapa orang, mungkin dengan berkarirlah dia mampu menjalani perannya menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya. Membuat jeda antara dirinya dengan anak-anaknya bisa menciptakan rasa rindu setiap harinya sehingga pertemuan diantara mereka selalu dibumbui rasa kasih dan sayang. Karena ibu juga manusia yang butuh untuk meng-upgrade dirinya, yang memiliki keinginan untuk mengembangkan dirinya, yang memiliki potensi yang juga butuh exist.

Aku bukan mendukung semua ibu untuk berkarir. Tidak. Setiap orang memiliki kebutuhan dan kapasitas diri yang berbeda-beda. Banyak pula full mom yang stay 7 x 24 jam berada di rumah dan bisa menjalani pengasuhan dengan sangat baik. Yang ingin aku sampaikan adalah kita harus berhenti menghakimi para ibu yang memutuskan untuk berkarir. Bukan kita yang menentukan baik buruknya pola pengasuhan untuk anak orang lain, bahkan kita (jika saya sudah menjadi ibu) tidak bisa memastikan bahwa pola asuh yang kita terapkan sudah ideal untuk anak sendiri. Tidak ada pola pengasuhan yang sempurna. Karena orang tua juga hanya manusia biasa yang bisa melakukan salah sewaktu-waktu. Setiap anak berbeda, dilahirkan di keluarga dengan kondisi yang berbeda. Cukup benahi diri kita dan tetap bersuka cita menjalani peran menjadi seorang ibu.

Semangat untuk para ibu! <3         

Komentar

What's that?

Review Materi bahasa Jerman Kelas X Semester Genap!

Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Satu tugas besar sudah selesai, sudah berhasil melewatinya dengan alhamdulillah cukup baik. Tinggal melewati tahap selanjutnya dengan tugas dan rintangan yang lebih besar lagi (read: skripsi).  -  - Alhamdulillah.. sejak bulan Februari sampai bulan Mei ini ditugaskan  untuk melaksanakan PPL di SMAN 3 Cimahi. Bener-bener pertama kali harus terjun langsung ngeliat situasi kelas dan karakteristik siswa yang bermacam-macam itu engga pernah kebayang sebelumnya. Bener-bener pengalaman yang berharga banget. Bukan cuma belajar gimana cara mengajar tapi juga mendidik. Gimana kepribadian seorang guru ternyata berpengaruh besar banget dalam proses pendidikan siswa! Setiap harinya harus mikirin metode apa yang cocok untuk diterapin di kelas. Bukan cuma teori! Dan yang paling penting, harus extra sabaaar! :') - - - Pastinya banyak banget yang harus dipelajari lagi untuk layak menjadi guru, bukan cuma masalah administrasinya, te...

#Sepenggalcerita : Do'a Mama

Duluu sekali, ketika pertama kali aku memutuskankan untuk membenahi penampilanku dengan hijab, pernah terbesit di pikiranku, “Seandainya dulu mama sama ayah mewajibkan aku berkerudung dari kecil, mungkin ngga akan seberat ini untuk menyempurnakan hijabku.” Pernah ada sesal. Tapi kemudian bersyukur. Aku bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk akhirnya menyadari hal ini. Selama empat tahun aku merantau ke Bandung dan disanalah perjalanan spiritualku dimulai. Aku seakan diasingkan dari keluargaku, teman-temanku dan dari 'habits' ku dulu untuk memulai langkah baru dengan pandangan baru, petualangan baru dan orang-orang baru. Aku seperti gelas kosong yang akan diisi dengan air sedikit demi sedikit. Aku belajar banyak. Mindsetku mulai berubah. Cara pandangku tentang hidup ini juga berubah. Ilmu agama, ilmu tentang kehidupan aku dapatkan disana. Ilmu-ilmu yang mungkin tidak pernah kudapatkan dari mama dan ayah. Nasehat-nasehat yang mungkin juga tidak pernah diuc...