Hallo!
Masih bersama aku dan pikiranku. Dan masih dengan aku yang belum menjadi ibu,
hehe. Tapi, pembahasan tentang peran ibu tetap menjadi topik yang menarik
perhatianku. Entah mengapa. Aku pernah membahas tentang topik ini sebelumnya,
sekitar dua tahun silam. Dan aku ingin menuangkan pikiranku kembali tentang menjadi
seorang ibu… tentang wanita yang akhirnya menjadi seorang ibu.
Aku
memiliki kakak yang telah melahirkan dua orang anak yang lucu dan menggemaskan.
Kakakku bekerja sebagai tenaga medis di sebuah rumah sakit. Ya, kakakku
berkarir ditengah perannya sebagai seorang ibu. Beberapa berpendapat kurang
setuju dengan apa yang dilakukan kakakku. Sempat beberapa kali anak kakakku
sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Juga ada anaknya yang (dirasa) tumbuh
kembangnya lamban. Kemana sasaran empuk untuk disalahkan? Tentu kakakku, ibu
dari anak itu. Mungkin anak itu kurang diperhatikan, mungkin ibunya terlalu sibuk,
dan lain sebagainya. Meskipun aku juga sempat mengiyakan ‘teori’ itu, tetapi
ada sisi lain dari keputusan kakakku untuk berkarir yang menurutku juga
penting. Dan itulah yang ingin kutuangkan saat ini.
Oke,
mungkin aku agak flashback dengan
sudut pandangku beberapa tahun silam yang beranggapan jika ibu yang berkarir
itu egois karena mementingkan pengembangan dirinya ketimbang pengembangan anak
dan keluarganya. Anak dan suami jadi terbengkalai dan keluarga hanya diberikan ‘sisa’
tenaga dan pikiran dari sang Ibu. – begitulah kira-kira sudut pandangku dulu. Dan
banyak pula yang beranggapan sama denganku. Banyak juga opini-opini yang aku
temui dengan menyudutkan ibu-ibu berkarir ini.
Aku
mencoba melihat sisi lain dari situasi ini – Ibu yang berkarir. Sepertinya
bukan hanya aku yang sepakat bahwa menjadi ibu itu tidaklah mudah. Mulai dari
masa hamil dan melahirkan juga masa pengasuhan yang terus-menerus berlangsung.
Tidak ada libur untuk menjadi seorang Ibu. Tekanan demi tekanan ditujukan untuk
si Ibu. Mulai dari tekanan tetangga, ibu mertua atau bahkan ibu sendiri, belum
lagi kalau dalam internal keluarga kecilnya juga ia dituntut untuk menjadi
sempurna, untuk selalu ada. Lalu siapa yang akan memenuhi kebutuhan si
Ibu? Kita tidak boleh lupa bahwa ibu juga memiliki jiwa yang butuh berkembang,
butuh berinteraksi dan bersosialisasi, jiwa yang memiliki hasrat dan keinginan.
Ibu adalah manusia biasa. Beruntung jika itu bisa dipenuhi didalam keluarga
kecilnya bersama teman hidupnya. Jika, tidak?
Aku
mencoba melihat fenomena ibu yang berkarir ini dari sisi lain. Hal lain yang
mungkin seringkali dilupakan untuk dibahas pada topik How to be a good mother adalah bagaimana menjaga kewarasan
ketika menjadi seorang ibu. Mungkin pemilihan kata yang aku pakai kurang
nyaman dibaca, sementara aku pakai kata itu dulu yah, sambil memikirkan padanan
kata yang lebih tepat. :) Ya, menjadi waras ditengah peran menjadi ibu itu
penting. Ingat, tugas ibu bukan hanya memastikan anak makan tiga kali sehari,
pergi dan pulang sekolah dengan tepat waktu, anak mandi dua kali sehari lalu
tidur dan bangun tidur tepat waktu, dan begitu seterusnya. Anak memiliki jiwa
yang juga butuh diasuh dan dididik. Anak bukan hanya butuh ibu yang pandai dan
cakap dalam mengurusnya tetapi juga butuh ibu yang memiliki jiwa yang sehat.
Jiwa dan hati ibu harus hadir dalam masa pengasuhan, sehingga cita-cita
memiliki anak yang berakhlak baik dapat tercapai. Memiliki anak yang cerdas
secara intelektual mungkin memang mengagumkan, tetapi aku rasa (dari
#sudutpandang ku) memiliki kecerdasan secara emosional dan spiritual jauh lebih
penting untuk kehidupan seseorang. Dan aku rasa hal itu bisa ditransfer dari ibu
yang mampu mengelola emosi nya dengan baik selama masa pengasuhan, sehingga akan
meminamilisir terjadinya trauma pada anak. Trauma pada masa kecil atau masa
pengasuhan bisa mengganggu kepribadian anak. Maka sangat dianjurkan sekali
untuk tidak memarahi apalagi membentak anak di masa-masa golden age nya – dimana kemampuan merekam anak sedang
dahsyat-dahsyatnya. Itulah mengapa apa yang terjadi di masa kecil, termasuk
trauma akibat pola pengasuhan yang salah bisa sangat memengaruhi kehidupan anak
di masa dewasa kelak. --- kira-kira begitulah teori yang aku baca pada beberapa
buku Parenting.
Lalu
apa hubungannya dengan Ibu berkarir?
Aku
mengenal beberapa ibu yang memutuskan berkarir ditengah perannya sebagai
seorang ibu dan istri tentunya. Dan aku menggeser sudut pandangku ke sisi lain
dan menemukan nilai yang penting dari keputusan mereka. Mungkin faktor ekonomi
juga tidak bisa dilepaskan dari keputusan mereka. Namun, beberapa ibu
memutuskan berkarir juga untuk menjaga dirinya agar tetap waras. Yeah.. aku pikir kewarasan dalam masa
pengasuhan anak itu penting banget, trauma pada masa kecil itu benar-benar
harus dihindari. Kita ngga bisa menutup mata bahwa banyak ibu yang kesulitan
untuk menjadi ibu. Banyak ibu yang memaki, membentak dan main tangan kepada
anaknya yang masih sangat kecil karena kesalahan kecil. Aku yakin jika
kesalahan itu dilakukan oleh temannya yang berusia dewasa, si Ibu ga akan
memarahi dan memperlakukan temannya seperti yang ia perbuat kepada anaknya.
Jika saja si Ibu itu mampu menjaga kewarasannya dan berpikir jernih, harusnya
dia sadar bahwa anak itu masih kecil dan masih sebentar sekali dia hidup
didunia ini mengetahui nilai-nilai salah dan benar, sehingga ngga pantas untuk
dimaki dan dibentak seperti itu. Kejadian ini bukan hanya dari kalangan keluarga
ekonomi menengah kebawah tetapi juga menengah keatas. Menjadi ibu di era
sekarang ini memiliki beban tersendiri. Menurutku, ibu harus memiliki mental health yang baik. Bukan.. bukan
maksudku orang yang memiliki masalah dalam mental
health itu tidak bisa menjadi ibu yang baik, tetapi, penting sekali bahwa orang-orang
disekitar ibu menjadi support system
yang baik untuk ibu itu sendiri. Ibu yang memiliki hati yang luas dan jiwa yang
damai tentunya bisa menentramkan dirinya juga keluarganya.
Untuk
beberapa orang, mungkin dengan berkarirlah dia mampu menjalani perannya menjadi
ibu yang baik bagi anak-anaknya. Membuat jeda antara dirinya dengan
anak-anaknya bisa menciptakan rasa rindu setiap harinya sehingga pertemuan
diantara mereka selalu dibumbui rasa kasih dan sayang. Karena
ibu juga manusia yang butuh untuk meng-upgrade
dirinya, yang memiliki keinginan untuk mengembangkan dirinya, yang memiliki
potensi yang juga butuh exist.
Aku
bukan mendukung semua ibu untuk berkarir. Tidak. Setiap orang memiliki
kebutuhan dan kapasitas diri yang berbeda-beda. Banyak pula full mom yang stay 7 x 24 jam berada di rumah dan bisa menjalani pengasuhan
dengan sangat baik. Yang ingin aku sampaikan adalah kita harus berhenti
menghakimi para ibu yang memutuskan untuk berkarir. Bukan kita yang menentukan
baik buruknya pola pengasuhan untuk anak orang lain, bahkan kita (jika saya sudah menjadi ibu) tidak bisa memastikan bahwa pola asuh yang kita terapkan sudah ideal untuk anak sendiri. Tidak ada pola pengasuhan
yang sempurna. Karena orang tua juga hanya manusia biasa yang bisa melakukan
salah sewaktu-waktu. Setiap anak berbeda, dilahirkan di keluarga dengan kondisi
yang berbeda. Cukup benahi diri kita dan tetap bersuka cita menjalani peran
menjadi seorang ibu.
Semangat
untuk para ibu! <3
Komentar
Posting Komentar