Mama dan Ayah mengalami masa-masa yang sulit.
It is sooooo harrddd to be parents, even to be wife and husband.
Setiap kita punya ego, setiap kita punya keinginan, setiap kita punya kebutuhan.
Aku mencoba memahami sikap ayah dan mama dalam menjalani rumah tangga mereka. Aku mengerti banyak kesalahan disana. Tapi ini bukan waktunya lagi untuk menggali kesalahan-kesalahan itu. Dan seiring berjalannya waktu, semakin banyak kekeliruan mereka yang aku temukan, semakin aku mengasihani keduanya. Andai mereka meluangkan waktu untuk bicara dari hati ke hati, bukan dengan emosi tapi dengan rasa sayang, mungkin... Ah, sudahlah, memang harus terjadi seperti ini.
Mungkin karena aku wanita, aku lebih memahami luka dan kesulitan apa yang mama alami selama ini. Sebagai gadis muda yang baru menikah dan tinggal bersama orang tuanya, pasti sulit untuk menyesuaikan diri dari semuanya. Ditambah lagi rahasia-rahasia kepribadian ayah yang keras dan egois yang baru bermunculan setelah mereka menikah. Ayah yang keras dan dingin, dan mama yang tidak pandai mengungkapkan perasaannya, pasti banyak luka yang ia pendam dan ia diamkan. Amaarah dan tangisan yang menumpuk pasti menambah sakit luka itu.
Mama pernah mengalami kehilangan anak dua kali. Aku tidak tau rasanya kehilangan anak, tetapi melihat pengalaman orang-orang yang baru saja kehilangan anak yang baru saja ia lahirkan, melihat betapa mereka menangisi peristiwa itu, pasti itu bukan perasaan kehilangan yang biasa. Dan mama mengalaminya sebanyak dua kali. DUA KALI. Aku tidak tau apa yang Ayah lakukan saat penderitaan itu dirasakan mama, aku tidak yakin ayah memeluk mama dengan hangat ataupun menenangkan mama dengan kata-kata penuh kelembutan. Aku benar-benar tidak tau dan tidak ingin bertanya.
Menjadi ibu pasti melelahkan, banyak tanggung jawab yang ia harus pikul. Beban untuk mengasuh anak saja sudah sulit, ditambah lagi harus tetap melayani suami dan bersikap baik di tengah masyarakat. Semua tugas-tugas itu harus dijalani dalam satu waktu yang sama. Pasti jika dia manusia biasa, ada salah satu tugas yang tidak bisa ia jalankan dengan baik. Atau mungkin pasti ada kesalahan atau kekurangan di setiap tugas itu. Oh, iya.. ada satu tugas yang dilupakan, yaitu membuat diri sendiri bahagia. Kadang klise sekali jika ibu bilang, kebahagiaan anak adalah kebahagiaan ibu. Pasti itu benar aku yakin. Hanya ibu yang tidak waras, yang bahagia anaknya (literally) menderita. Tapi, setiap ibu juga manusia biasa yang memiliki keinginan. Semisal, memiliki waktu sendiri tanpa embel-embel identitas dirinya sebagai ibu dan istri. Hanya sebagai individu saja yang sedang ingin bermalas-malasan, atau mendengarkan lagu kesukaan, atau makan makanan enak bukan makanan sisa anak kecilnya yang tidak habis termakan. Daan... mungkin kebutuhan lainnya adalah ingin keberadaan dirinya diakui, bukan hanya oleh keluarganya tapi juga di lingkungan sosial. Mengembangkan potensi dirinya dan tentu saja kepercayaan dirinya.
Aku mencoba mengerti bahwa mungkin kebutuhan-kebutuhan ini tidak semuanya terpenuhi dalam diri mama sejak menjadi istri dan ibu. Mungkin.
Mempertahankan keutuhan rumah tangga juga menjadi struggle besar yang mereka hadapi. Bukan bertahan hanya demi anak, bukan demi tidak menjadi bahan pembicaraan tetangga, bukan demi tidak menjadi duda tau janda yang pastinya label itu menambah beban baru bagi mereka, atau mungkin bagi ibu rumah tangga seperti mama bukan demi terpenuhinya uang rumah tangga. Itu pasti sulit. Untuk memastikan apakah masih ada cinta di hati keduanya. Untuk memastikan bahwa mereka masih saling membutuhkan bukan dari segi materi dan fungsi keduanya, tapi karena ikatan emotional yang awalnya menyatukan mereka.
Menjadi Ibu... pasti sulit. Membesarkan satu anak saja pasti sulit dengan dinamika perubahan karakter mereka dari bayi hingga dewasa. Aku pikir jika ada nobel untuk pengkhianat paling sadis itu bisa diberikan untuk semua anak atas perilakunya kepada orang tuanya. Ya, kita adalah pengkhianat orang tua kita. Atas setiap waktu pengasuhan yang orang tua kita berikan, atas segala tenaga, harta dan pikiran mereka, kita balas mereka dengan perilaku tidak sopan, menolak mereka dan mungkin tidak membalas perhatian mereka. Kita sibuk dengan teman-teman kita, impian kita dan orang-orang diluar sana yang tidak banyak berkontribusi untuk hidup kita. It was not easy!
Dan kepada si pengkhianat ini, mereka masih bisa tersenyum menyambut kepulangan kita. Masih menanyakan kita dan khawatir dengan kita, memasakan hidangan kesukaan kita, mereka patut dihormati dan diperlakukan sangat baik.
So, let's try to forgive them for all wound they made on you:)
Komentar
Posting Komentar