Saat itu usiaku sekitar 18 tahun.
Pertama kalinya jauh dari orang tua, bukan untuk berlibur satu atau dua hari. Aku harus tinggal disana, sendirian, jauh dari rumah, jauh dari orang tua.
Satu atau dua bulan pertama, aku selalu menangis karena terlalu sepi disana. Semakin lama aku semakin terbiasa, sendirian dengan diriku sendiri. Dan semakin banyak waktu untuk sendiri memberikanku lebih banyak kesempatan untuk berpikir. Memikirkan banyak hal tentang hidupku. Tentang siapa aku. Tentang masalah-masalah yang terjadi saat itu yang membuka pikiranku akan masalah-masalah yang telah terjadi sejak dulu.
Dan akhirnya aku tau, bahwa ada yang salah denganku, dengan keluargaku, dengan pola asuh orang tuaku, dan dengan pola komunikasi kami.
Pada masa itu, banyak amarah-amarah yang bermunculan. Memori-memori yang menyesakkan dada mulai timbul kepermukaan seakan-akan itu baru terjadi kemarin. Perasaan marah, benci, dendam dan sedih bercampur jadi satu. Menyesal kenapa tidak ada yang menyadari dan mencoba memperbaiki semuanya saat itu. Kenapa? Kenapa?
Andai mama dan ayah memperbaiki hubungan mereka dan pola komunikasi mereka.
Andai mereka mencoba untuk saling memahami dan belajar untuk saling menghargai dan menghormati, bukan saling diam, memendam dan membiarkannya menjadi luka untuk mereka sendiri yang tanpa sadar itu juga menyebabkan luka untuk orang-orang sekitar. Kenapa akhirnya mereka menyerah dan saling mengalah?
Seandainya mereka begini...
Andai mereka tidak begitu...
---------------------------------------
Satu persatu memori masa kecilku yang muncul ke permukaan, yang kukira aku sudah melupakannya, ternyata itu tersimpan rapi dalam memoriku beserta rasanya. Perasaan yang aku rasakan ataupun perasaan orang-orang yang ada dalam bayangan itu. Bagaimana ayah marah, bagaimana mama menahan tangis ataupun saat tangisnya terisak-isak, sedang aku saat itu hanya diam dan melihat dan tanpa sadar merekam jelas adegan demi adegan itu. Dan sekarang memori itu meninggalkan luka.
Pada fase ini, aku masih sangat marah dengan mereka. Satu sisi, aku menganalisis darimana ini semua dimulai. Pernahkah mereka saling mencintai? Pernahkah mereka saling berbicara? Pernahkah mereka mencoba saling mendengarkan?
Aku mencoba berdiri dipihak Ayah, apakah pernah mama bertanya tentang apa yang membuat Ayah nyaman? Mendengarkan apa yang menjadi impiannya? Berkata lembut? Atau pernahkah Mama jujur kepada Ayah tentang perasaan Mama? Pernahkah Mama memuji Ayah dengan bangga dan membuat Ayah terlihat besar dimata orang lain?
Aku mencoba berdiri dipihak Mama, apakah Ayah pernah mendengarkan apa yang menjadi keinginan Mama? Menghargai pendapat Mama? Pernahkah Ayah mencoba mengerti posisi Mama dan memperlakukannya dengan baik? Tidak pernahkah Ayah mencoba membayangkan menjadi Mama, Ibu rumah tangga dengan anak-anak dan tinggal di rumah mertuanya? Pernahkan Ayah bertanya dan mengajak ngobrol Mama setelah kejadian keguguran yang dua kali terjadi itu? Pernahkah Ayah memeluk Mama, membuatnya merasa diinginkandan dibutuhkan?
Pernahkah mereka merasa saling merasa bersyukur karena telah dipertemukan Allah dalam satu ikatan pernikahan? Pernahkah mereka mensyukuri pernikahan mereka?
Komentar
Posting Komentar