Apa
yang aku pikirkan tentang perubahan status wanita ketika menjadi seorang ibu?
••••
Aku
belum menjadi seorang ibu, tapi ini adalah apa yang aku pikirkan tentang
menjadi seorang IBU.
Layaknya
kita menempuh jenjang sekolah, ya abis SD terus SMP abis itu SMA lalu Kuliah.
Menjadi seorang IBU juga bagian dari jenjang kehidupan gitu sih, simple nya. Selama ini statusnya hanya
sebagai anak ya nanti di usia yang tepat berubah jadi istri lalu jadi ibu lalu
jadi nenek – uyut – dst. Simple nya
sih gitu.
Tapi,
kalau kita bergeser melihat dari sudut pandang yang lain, menjadi seorang IBU
adalah sebuah anugerah besar yang ALLAH berikan kepada seorang wanita. Aku
percaya akan ada saatnya setiap wanita itu akan menjadi seorang IBU. Even dia punya anak (kandung) atau
engga. Menjadi seorang IBU juga menjadi masalah hati. Beberapa wanita yang
memiliki anak tetapi anaknya ditelantarkan bahkan disiksa atau dibuang itu juga
berat banget untuk bisa dibilang dia adalah seorang IBU, karena dia ngga
memiliki jiwa atau hati layaknya seorang IBU.
Balik
lagi ke pernyataan bahwa “Menjadi seorang IBU adalah anugerah besar yang ALLAH
berikan kepada setiap wanita.” Aku ngga kebayang rasanya gimana ada makhluk
hidup yang lagi berjuang hidup dan tumbuh didalam tubuh aku. Dia sangat
bergantung padaku, gizinya bergantung pada apa yang aku makan, kalo aku makan
yang bergizi, dia akan tumbuh baik, kalau aku sakit dia ikut sakit. Kalo aku
sedih, phsykologi dia juga ikut terganggu. Kalo aku seneng dia akan dapat
energi positif. Ketika nanti aku merasakan hal itu, aku pasti akan excited banget! Ada bayi kecil yang akan
lahir yang sifatnya kurang lebih mengingatkan aku pada masa kecilku, kayak miniature -ku gitu. Bener-bener anugerah
besar dari ALLAH.
••••
Selain
itu, menjadi seorang IBU adalah suatu kehormatan yang ALLAH berikan kepada
wanita. Bagaimana engga? ALLAH menitipkan hamba-Nya untuk dijaga, dikasihi,
dididik dan diperlakukan baik oleh seorang wanita. Kadang kalo kita dititipin
suatu benda milik teman kita, kita pasti bakal jagain banget benda itu, minimal
kita pantau terus. Apalagi kalau teman kita bilang, benda itu harganya mahal
banget, belinya di luar negeri, pokoknya limited
edition dan itu adalah benda kesayangan teman kita. Pastiii banget, kalau dibilang
kayak gitu kita bakal lebih nge-protect banget
benda titipan itu. Engga cuma dipantau aja, tapi disimpan di tempat yang aman,
diberikan lapisan pelindung, dan pasti kita akan ngerasa was-was banget jangan
sampe benda itu rusak, dicuri orang atau bahkan tergores sedikitpun, jangan
sampe. Naah, kalau kita ngerasa aware banget
ketika dititipin benda berharga milik teman kita, bagaimana ketika nanti kita
menjadi seorang IBU dan dititipkan seorang anak? Ini ALLAH langsung loh yang
nitip, ‘benda titipan’ Nya itu kesayangan-Nya ALLAH banget lagi. Sungguh, suatu
kehormatan besar menjadi seorang wanita. Dipercaya untuk menjadi malaikat
pelindung untuk hamba-Nya ALLAH sejak ia dalam keadaan sangat lemah di rahim
seorang wanita.
••••
Selain
suatu kehormatan, tentunya ini adalah amanah besar yang ALLAH berikan kepada
wanita. Karena yang dititipkan adalah apa yang ALLAH sayangi, pastinya harus
diperlakukan dengan sebaik dan sebenar mungkin. Karena nantinya, setiap IBU
(dan juga ayah) akan ditanyai pertanggung jawabannya dalam menjalankan amanah
tersebut. Apakah anak tersebut diperkenalkan tentang Rabb-nya? Apakah anak
tersebut diperlakukan baik, diberikan pendidikan dan kasih sayang? Apakah anak
perempuanmu sudah diberitahu untuk berhijab?
Terkadang
banyak juga orang tua yang beranggapan bahwa anak itu adalah miliknya,
kepunyaannya seutuhnya, jadi sesuka mereka ingin mendidik dan mengasuh anak itu
seperti apa. Karena merasa milik manusia lah yang membuat pola pengasuhan jadi
seenaknya dan kurang amanah. Diarahkan sesuka mereka. Anak itu harus jadi
direktur, bisa menghasilkan banyak uang, atau jadi model paling cantik sedunia
dan lain-lain yang duniawi banget! Atau mungkin seringnya anak diberikan
pendidikan seperti les bahasa inggris, les matematika, les piano tetapi lupa
untuk memberikan pendidikan agama, mengajarkan sholat, baca Al-Qur’an, dan bahkan mengenalkan ALLAH
kepada si anak.
Banyak
orang tua yang ngga sadar akan amanah yang ALLAH berikan kepada mereka,
sehingga pola pengasuhan dan pendidikan anak malah menjadikan si anak jauh dari
Pemilik-Nya. Miris banget.
••••
Menjadi
seorang IBU adalah suatu kemuliaan yang ALLAH berikan kepada wanita. Bagaimana
enggak? Pintu surga dari hamba ALLAH itu salah satunya ada di kaki seorang IBU.
Ridho ALLAH kepada seorang hamba juga bergantung pada ridho seorang IBU. Kalau
kamu rajin sholat, rajin ngaji tapi sering nyakitin hati IBU, tetap saja ALLAH
ngga ridho dengan apa yang kamu kerjakan. Astaghfirullah
aladzim.
••••
Kadang
wanita kurang aware dengan perannya
sebagai seorang IBU. Ada dua pandangan yang sangat keliru yang berkembang sejak
lama di Indonesia, yang pertama,
untuk apa wanita sekolah tinggi-tinggi karena
ujung-ujungnya hanya bekerja di dapur; kedua,
kalau ujung-ujungnya hanya bekerja
di dapur, untuk apa wanita sekolah tinggi-tinggi.
Kelihatan
sama ya? Iya, sama-sama keliru-_-
Pernyataan
pertama, sudut pandang orang-orang
yang mengatakan ini beranggapan bahwa wanita itu tidak perlu mendapatkan
pendidikan tinggi karena tugasnya adalah di rumah, mengurus rumah dan keluarga.
Hanya sebatas, nyapu, negepel, masak, jadi ngga perlu pendidikan tinggi.
Pernyataan
kedua, sudut pandang orang-orang yang
mengatakan ini beranggapan bahwa wanita yang memiliki pendidikan tinggi
harusnya mengembangkan karir di luar bukan menjadi ibu rumah tangga. Mereka
menyayangkan ilmu pendidikan yang sudah ditempuh selama ini kalau hanya
digunakan untuk mengurus rumah tangga saja.
Aku
termasuk yang gegen dengan dua
pernyataan ini. Pernyataan ini keliru banget menurut aku. Seorang wanita butuh
pendidikan tinggi. Dan itu adalah apa yang telah diperjuangkan oleh pahlawan
wanita kita yaitu, R.A Kartini dan Dewi Sartika. Mereka menyadari betul kalau
wanita itu butuh banget pendidikan tinggi. Dan mereka memaparkan bahwa
pendidikan tinggi dibutuhkan seorang wanita BUKAN untuk menyaingi kaum pria.
Setiap pria dan wanita memiliki kodratnya masing-masing yang sudah ALLAH
tentukan. Jadi, wanita menempuh pendidikan tinggi tidak lain adalah untuk
menopang kodratnya sebagai seorang wanita, menjadi seorang pencetak generasi.
Kalaupun memang wanita itu harus stay
di rumah mengurus rumah tangga nya, termasuk anak dan suaminya itu karena
kodrat yang telah ALLAH berikan kepada wanita. Banyak orang-orang bahkan wanita
sendiri yang menganggap bahwa kodrat ini sebagai bentuk pengekangan dan
penindasan terhadap kaum wanita. Sepertinya kalau setiap wanita melihat lagi
dari sudut pandang yang lain dan menyadari, bagaimana ALLAH memberikan
anugerah, kehormatan, amanah besar serta kemuliaan kepada wanita, mungkin dia
ngga akan menyia-nyiakan waktunya untuk bekerja di sebuah perusahaan dan ngga
akan mengabaikan anugerah serta kemuliaan yang ALLAH berikan kepadanya. Dan
hikmah mengapa ALLAH menganjurkan seorang wanita lebih baik stay di rumah, menurutku, itu adalah
cara ALLAH menjaga dan memuliakan seorang wanita muslimah.
••••
“
…. kaum wanita harus
maju, pintar seperti laki-laki, sebab kaum wanita itu akan menjadi seorang ibu.
Merekalah yang paling dahulu mengajarkan pengetahuan kepada manusia, yaitu
anak-anak mereka, laki-laki maupun perempuan.”
(Dewi Sartika)
Komentar
Posting Komentar