Langsung ke konten utama

#SUDUTPANDANG: Menjadi Seorang IBU [Part I]

Apa yang aku pikirkan tentang perubahan status wanita ketika menjadi seorang ibu?

••••
Aku belum menjadi seorang ibu, tapi ini adalah apa yang aku pikirkan tentang menjadi seorang IBU.
Layaknya kita menempuh jenjang sekolah, ya abis SD terus SMP abis itu SMA lalu Kuliah. Menjadi seorang IBU juga bagian dari jenjang kehidupan gitu sih, simple nya. Selama ini statusnya hanya sebagai anak ya nanti di usia yang tepat berubah jadi istri lalu jadi ibu lalu jadi nenek – uyut – dst. Simple nya sih gitu.
Tapi, kalau kita bergeser melihat dari sudut pandang yang lain, menjadi seorang IBU adalah sebuah anugerah besar yang ALLAH berikan kepada seorang wanita. Aku percaya akan ada saatnya setiap wanita itu akan menjadi seorang IBU. Even dia punya anak (kandung) atau engga. Menjadi seorang IBU juga menjadi masalah hati. Beberapa wanita yang memiliki anak tetapi anaknya ditelantarkan bahkan disiksa atau dibuang itu juga berat banget untuk bisa dibilang dia adalah seorang IBU, karena dia ngga memiliki jiwa atau hati layaknya seorang IBU.
Balik lagi ke pernyataan bahwa “Menjadi seorang IBU adalah anugerah besar yang ALLAH berikan kepada setiap wanita.” Aku ngga kebayang rasanya gimana ada makhluk hidup yang lagi berjuang hidup dan tumbuh didalam tubuh aku. Dia sangat bergantung padaku, gizinya bergantung pada apa yang aku makan, kalo aku makan yang bergizi, dia akan tumbuh baik, kalau aku sakit dia ikut sakit. Kalo aku sedih, phsykologi dia juga ikut terganggu. Kalo aku seneng dia akan dapat energi positif. Ketika nanti aku merasakan hal itu, aku pasti akan excited banget! Ada bayi kecil yang akan lahir yang sifatnya kurang lebih mengingatkan aku pada masa kecilku, kayak miniature -ku gitu. Bener-bener anugerah besar dari ALLAH.
••••
Selain itu, menjadi seorang IBU adalah suatu kehormatan yang ALLAH berikan kepada wanita. Bagaimana engga? ALLAH menitipkan hamba-Nya untuk dijaga, dikasihi, dididik dan diperlakukan baik oleh seorang wanita. Kadang kalo kita dititipin suatu benda milik teman kita, kita pasti bakal jagain banget benda itu, minimal kita pantau terus. Apalagi kalau teman kita bilang, benda itu harganya mahal banget, belinya di luar negeri, pokoknya limited edition dan itu adalah benda kesayangan teman kita. Pastiii banget, kalau dibilang kayak gitu kita bakal lebih nge-protect banget benda titipan itu. Engga cuma dipantau aja, tapi disimpan di tempat yang aman, diberikan lapisan pelindung, dan pasti kita akan ngerasa was-was banget jangan sampe benda itu rusak, dicuri orang atau bahkan tergores sedikitpun, jangan sampe. Naah, kalau kita ngerasa aware banget ketika dititipin benda berharga milik teman kita, bagaimana ketika nanti kita menjadi seorang IBU dan dititipkan seorang anak? Ini ALLAH langsung loh yang nitip, ‘benda titipan’ Nya itu kesayangan-Nya ALLAH banget lagi. Sungguh, suatu kehormatan besar menjadi seorang wanita. Dipercaya untuk menjadi malaikat pelindung untuk hamba-Nya ALLAH sejak ia dalam keadaan sangat lemah di rahim seorang wanita.
••••
Selain suatu kehormatan, tentunya ini adalah amanah besar yang ALLAH berikan kepada wanita. Karena yang dititipkan adalah apa yang ALLAH sayangi, pastinya harus diperlakukan dengan sebaik dan sebenar mungkin. Karena nantinya, setiap IBU (dan juga ayah) akan ditanyai pertanggung jawabannya dalam menjalankan amanah tersebut. Apakah anak tersebut diperkenalkan tentang Rabb-nya? Apakah anak tersebut diperlakukan baik, diberikan pendidikan dan kasih sayang? Apakah anak perempuanmu sudah diberitahu untuk berhijab?
Terkadang banyak juga orang tua yang beranggapan bahwa anak itu adalah miliknya, kepunyaannya seutuhnya, jadi sesuka mereka ingin mendidik dan mengasuh anak itu seperti apa. Karena merasa milik manusia lah yang membuat pola pengasuhan jadi seenaknya dan kurang amanah. Diarahkan sesuka mereka. Anak itu harus jadi direktur, bisa menghasilkan banyak uang, atau jadi model paling cantik sedunia dan lain-lain yang duniawi banget! Atau mungkin seringnya anak diberikan pendidikan seperti les bahasa inggris, les matematika, les piano tetapi lupa untuk memberikan pendidikan agama, mengajarkan sholat,  baca Al-Qur’an, dan bahkan mengenalkan ALLAH kepada si anak.
Banyak orang tua yang ngga sadar akan amanah yang ALLAH berikan kepada mereka, sehingga pola pengasuhan dan pendidikan anak malah menjadikan si anak jauh dari Pemilik-Nya. Miris banget.
••••
Menjadi seorang IBU adalah suatu kemuliaan yang ALLAH berikan kepada wanita. Bagaimana enggak? Pintu surga dari hamba ALLAH itu salah satunya ada di kaki seorang IBU. Ridho ALLAH kepada seorang hamba juga bergantung pada ridho seorang IBU. Kalau kamu rajin sholat, rajin ngaji tapi sering nyakitin hati IBU, tetap saja ALLAH ngga ridho dengan apa yang kamu kerjakan. Astaghfirullah aladzim.
••••
Kadang wanita kurang aware dengan perannya sebagai seorang IBU. Ada dua pandangan yang sangat keliru yang berkembang sejak lama di Indonesia, yang pertama, untuk apa wanita sekolah tinggi-tinggi karena ujung-ujungnya hanya bekerja di dapur; kedua, kalau ujung-ujungnya hanya bekerja di dapur, untuk apa wanita sekolah tinggi-tinggi.
Kelihatan sama ya? Iya, sama-sama keliru-_-
Pernyataan pertama, sudut pandang orang-orang yang mengatakan ini beranggapan bahwa wanita itu tidak perlu mendapatkan pendidikan tinggi karena tugasnya adalah di rumah, mengurus rumah dan keluarga. Hanya sebatas, nyapu, negepel, masak, jadi ngga perlu pendidikan tinggi.
Pernyataan kedua, sudut pandang orang-orang yang mengatakan ini beranggapan bahwa wanita yang memiliki pendidikan tinggi harusnya mengembangkan karir di luar bukan menjadi ibu rumah tangga. Mereka menyayangkan ilmu pendidikan yang sudah ditempuh selama ini kalau hanya digunakan untuk mengurus rumah tangga saja.

Aku termasuk yang gegen dengan dua pernyataan ini. Pernyataan ini keliru banget menurut aku. Seorang wanita butuh pendidikan tinggi. Dan itu adalah apa yang telah diperjuangkan oleh pahlawan wanita kita yaitu, R.A Kartini dan Dewi Sartika. Mereka menyadari betul kalau wanita itu butuh banget pendidikan tinggi. Dan mereka memaparkan bahwa pendidikan tinggi dibutuhkan seorang wanita BUKAN untuk menyaingi kaum pria. Setiap pria dan wanita memiliki kodratnya masing-masing yang sudah ALLAH tentukan. Jadi, wanita menempuh pendidikan tinggi tidak lain adalah untuk menopang kodratnya sebagai seorang wanita, menjadi seorang pencetak generasi. Kalaupun memang wanita itu harus stay di rumah mengurus rumah tangga nya, termasuk anak dan suaminya itu karena kodrat yang telah ALLAH berikan kepada wanita. Banyak orang-orang bahkan wanita sendiri yang menganggap bahwa kodrat ini sebagai bentuk pengekangan dan penindasan terhadap kaum wanita. Sepertinya kalau setiap wanita melihat lagi dari sudut pandang yang lain dan menyadari, bagaimana ALLAH memberikan anugerah, kehormatan, amanah besar serta kemuliaan kepada wanita, mungkin dia ngga akan menyia-nyiakan waktunya untuk bekerja di sebuah perusahaan dan ngga akan mengabaikan anugerah serta kemuliaan yang ALLAH berikan kepadanya. Dan hikmah mengapa ALLAH menganjurkan seorang wanita lebih baik stay di rumah, menurutku, itu adalah cara ALLAH menjaga dan memuliakan seorang wanita muslimah.

••••

“ …. kaum wanita harus maju, pintar seperti laki-laki, sebab kaum wanita itu akan menjadi seorang ibu. Merekalah yang paling dahulu mengajarkan pengetahuan kepada manusia, yaitu anak-anak mereka, laki-laki maupun perempuan.” (Dewi Sartika)

Komentar

What's that?

Review Materi bahasa Jerman Kelas X Semester Genap!

Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Satu tugas besar sudah selesai, sudah berhasil melewatinya dengan alhamdulillah cukup baik. Tinggal melewati tahap selanjutnya dengan tugas dan rintangan yang lebih besar lagi (read: skripsi).  -  - Alhamdulillah.. sejak bulan Februari sampai bulan Mei ini ditugaskan  untuk melaksanakan PPL di SMAN 3 Cimahi. Bener-bener pertama kali harus terjun langsung ngeliat situasi kelas dan karakteristik siswa yang bermacam-macam itu engga pernah kebayang sebelumnya. Bener-bener pengalaman yang berharga banget. Bukan cuma belajar gimana cara mengajar tapi juga mendidik. Gimana kepribadian seorang guru ternyata berpengaruh besar banget dalam proses pendidikan siswa! Setiap harinya harus mikirin metode apa yang cocok untuk diterapin di kelas. Bukan cuma teori! Dan yang paling penting, harus extra sabaaar! :') - - - Pastinya banyak banget yang harus dipelajari lagi untuk layak menjadi guru, bukan cuma masalah administrasinya, te...

#Sepenggalcerita : Do'a Mama

Duluu sekali, ketika pertama kali aku memutuskankan untuk membenahi penampilanku dengan hijab, pernah terbesit di pikiranku, “Seandainya dulu mama sama ayah mewajibkan aku berkerudung dari kecil, mungkin ngga akan seberat ini untuk menyempurnakan hijabku.” Pernah ada sesal. Tapi kemudian bersyukur. Aku bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk akhirnya menyadari hal ini. Selama empat tahun aku merantau ke Bandung dan disanalah perjalanan spiritualku dimulai. Aku seakan diasingkan dari keluargaku, teman-temanku dan dari 'habits' ku dulu untuk memulai langkah baru dengan pandangan baru, petualangan baru dan orang-orang baru. Aku seperti gelas kosong yang akan diisi dengan air sedikit demi sedikit. Aku belajar banyak. Mindsetku mulai berubah. Cara pandangku tentang hidup ini juga berubah. Ilmu agama, ilmu tentang kehidupan aku dapatkan disana. Ilmu-ilmu yang mungkin tidak pernah kudapatkan dari mama dan ayah. Nasehat-nasehat yang mungkin juga tidak pernah diuc...

#Sudutpandang : Menjadi IBU [Part II]

Hallo! Masih bersama aku dan pikiranku. Dan masih dengan aku yang belum menjadi ibu, hehe. Tapi, pembahasan tentang peran ibu tetap menjadi topik yang menarik perhatianku. Entah mengapa. Aku pernah membahas tentang topik ini sebelumnya, sekitar dua tahun silam. Dan aku ingin menuangkan pikiranku kembali tentang menjadi seorang ibu… tentang wanita yang akhirnya menjadi seorang ibu. Aku memiliki kakak yang telah melahirkan dua orang anak yang lucu dan menggemaskan. Kakakku bekerja sebagai tenaga medis di sebuah rumah sakit. Ya, kakakku berkarir ditengah perannya sebagai seorang ibu. Beberapa berpendapat kurang setuju dengan apa yang dilakukan kakakku. Sempat beberapa kali anak kakakku sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Juga ada anaknya yang (dirasa) tumbuh kembangnya lamban. Kemana sasaran empuk untuk disalahkan? Tentu kakakku, ibu dari anak itu. Mungkin anak itu kurang diperhatikan, mungkin ibunya terlalu sibuk, dan lain sebagainya. Meskipun aku juga sempat mengiyakan ‘teori’...