Suami
dan istri.. ayah dan ibu.. kedua peran itu harusnya benar-benar bersinergi
untuk bisa membangun sebuah keluarga yang bahagia.
Aku
mengibaratkan keluarga seperti layaknya sekolah, ibu adalah guru yang memberi
teladan dan pendidikan kepada anak-anaknya, bahkan, ibu harus bisa menjadi guru sepanjang hayat. Bukan hanya guru PAUD/TK, SD, SMP atau SMA tapi juga bisa menjadi guru bagi anak-anaknya kelak hingga dewasa. Dan ayah adalah kepala sekolah yang membangun
citra diri sekolah dan mengembangkan potensi warga di sekolahnya. Dan, kami..
anak-anak adalah siswa-siswanya yang berusaha mewujudkan mimpi-mimpi melalui ilmu pengetahuan di sekolahnya tersebut.
Tapi,
bagaimana ya, jika peran-peran penting tersebut tidak dilaksanakan dengan baik?
Bukankah hanya akan membangun sekolah dengan citra yang buruk? Dengan siswa-siswa
yang memiliki karakter yang buruk pula. Berantakan.
Dari
yang aku pahami, kontrol terbesar dari karakter dasar seorang anak ada pada
ibunya. Ibu yang lembut akan menghasilkan anak yang lembut pula. Anak yang
selalu dididik dengan cara yang kasar dan kejam hanya akan menciptakan monster
di dalam diri anak tersebut. Lalu, bukan berarti beban membangun keluarga yang
sakinah, yang mampu menenangkan orang-orang di dalamnya dengan penuh kasih dan
cinta hanya ada pada pundak seorang ibu. Peran ayah juga memiliki andil besar
dalam membangun keluarga yang penuh cinta. Pada dasarnya, seorang wanita
memiliki kebutuhan besar untuk dicintai dan diperhatikan. Apalagi seorang ibu. Dia
memberikan seluruh cinta untuk anak-anak dan keluarganya, tetapi, kemana dia
harus meminta asupan cinta untuk dirinya sendiri? Dari ayahlah cinta dan
perhatian itu harusnya didapatkan. Sosok suami yang pandai membahagiakan
istrinya dengan penuh cinta adalah sosok yang sangat dibutuhkan di setiap
keluarga. Psikologi seorang ibu itu mempengaruhi dirinya dalam menjalankan
perannya sebagai guru untuk anak-anaknya. Ibu yang bahagia akan menghadirkan
keluarga yang bahagia. Ibu yang bahagia akan melontarkan ucapan-ucapan yang
manis dan lemah lembut. Ibu yang bahagia akan melakukan kewajibannya dengan
sangat ringan, penuh suka hati dan keikhlasan. Ibu yang bahagia akan menularkan
kebahagiaanya kepada anggota keluarganya. Ibu yang bahagia menciptakan
kebahagiaan dan kenyamanan di dalam rumah.
Jika
hati seorang istri rapuh, akan mempengaruhi semangatnya dalam menghidupkan
suasana bahagia dan harmonis dalam keluarganya. Jika psikologi seorang istri
mulai terganggu akan mempengaruhi pula kepada psikologi anak-anaknya. Ia akan
mudah marah, kata-kata yang terlontar mungkin adalah kata-kata yang sangat
menyakitkan, karena kata-kata itulah yang mungkin mewakili luka-luka dalam
hatinya.
Yang
aku tau, biasanya orang-orang yang sering melontarkan kata-kata pedas,
kata-kata tajam yang menohok hati keluar dari lisan seseorang yang penuh luka
dan ia belum menemukan cara untuk menyembuhkan luka di hatinya.
Dear..
jika kalian menemukan seseorang seperti itu, yang pertama harus dilakukan
adalah menyiapkan tameng dalam hati kita agar kata-kata itu tidak dapat menusuk
hati kita. Kita harus terus ber-positive
thinking sesulit apapun itu, yakin bahwa dia tidak bermaksud berkata seperti
itu. Lalu, cobalah untuk mengerti dia, mungkin dihatinya masih ada luka dari kejahatan
orang lain sehingga dia mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan sebagai wujud
dari rasa sakit hatinya. Coba tenangkan dirimu, lalu keluarkan kata-kata yang
dapat membuatnya merasa tenang. Jika tidak engkau temukan, cobalah keluarkan
tatapan yang mampu menenangkan ia, tatap matanya seolah-olah kamu ingin
mengatakan “Aku tau kamu sedang berada di posisi yang sulit. Aku mengerti.”
Menurutku,
betapa pentingnya psikologi seorang ibu di dalam keluarga. Menjadi seorang ibu sangaatlah berat. Ya, setidaknya itu kata-kata yang sering kudengar dari ibu-ibu yang tangguh. Seorang wanita yang berhasil menjadi seorang ibu adalah wanita yang tangguh. Maka, menjadi seorang ibu adalah amanah yang luar biasa besar tanggung jawabnya. Dan peran yang sangat luar biasa hebat. Allah menaruh kepercayaan yan besar pada seorang ibu untuk menjadi malaikat pelindung bagi hamba-Nya yang masih mungil itu. Kelak, jika aku menjadi seorang ibu, aku akan mengambil peran besar itu, peran yang sangat luar biasa mulia, Allah sendiri yang memberikan job itu nantinya kepadaku, aku tidak boleh menyianyiakannya, kan? Apalagi tidak tanggung-tanggung, Allah mempercayakan surga anak-anakku kelak di bawah telapak kakiku. Sungguh peran yang luar biasa!
•••
Komentar
Posting Komentar