Langsung ke konten utama

#SerialParenting : Happy Family is a Happy Mother!

Suami dan istri.. ayah dan ibu.. kedua peran itu harusnya benar-benar bersinergi untuk bisa membangun sebuah keluarga yang bahagia.

Aku mengibaratkan keluarga seperti layaknya sekolah, ibu adalah guru yang memberi teladan dan pendidikan kepada anak-anaknya, bahkan, ibu harus bisa menjadi guru sepanjang hayat. Bukan hanya guru PAUD/TK, SD, SMP atau SMA tapi juga bisa menjadi guru bagi anak-anaknya kelak hingga dewasa. Dan ayah adalah kepala sekolah yang membangun citra diri sekolah dan mengembangkan potensi warga di sekolahnya. Dan, kami.. anak-anak adalah siswa-siswanya yang berusaha mewujudkan mimpi-mimpi melalui ilmu pengetahuan di sekolahnya tersebut.

Tapi, bagaimana ya, jika peran-peran penting tersebut tidak dilaksanakan dengan baik? Bukankah hanya akan membangun sekolah dengan citra yang buruk? Dengan siswa-siswa yang memiliki karakter yang buruk pula. Berantakan.

Dari yang aku pahami, kontrol terbesar dari karakter dasar seorang anak ada pada ibunya. Ibu yang lembut akan menghasilkan anak yang lembut pula. Anak yang selalu dididik dengan cara yang kasar dan kejam hanya akan menciptakan monster di dalam diri anak tersebut. Lalu, bukan berarti beban membangun keluarga yang sakinah, yang mampu menenangkan orang-orang di dalamnya dengan penuh kasih dan cinta hanya ada pada pundak seorang ibu. Peran ayah juga memiliki andil besar dalam membangun keluarga yang penuh cinta. Pada dasarnya, seorang wanita memiliki kebutuhan besar untuk dicintai dan diperhatikan. Apalagi seorang ibu. Dia memberikan seluruh cinta untuk anak-anak dan keluarganya, tetapi, kemana dia harus meminta asupan cinta untuk dirinya sendiri? Dari ayahlah cinta dan perhatian itu harusnya didapatkan. Sosok suami yang pandai membahagiakan istrinya dengan penuh cinta adalah sosok yang sangat dibutuhkan di setiap keluarga. Psikologi seorang ibu itu mempengaruhi dirinya dalam menjalankan perannya sebagai guru untuk anak-anaknya. Ibu yang bahagia akan menghadirkan keluarga yang bahagia. Ibu yang bahagia akan melontarkan ucapan-ucapan yang manis dan lemah lembut. Ibu yang bahagia akan melakukan kewajibannya dengan sangat ringan, penuh suka hati dan keikhlasan. Ibu yang bahagia akan menularkan kebahagiaanya kepada anggota keluarganya. Ibu yang bahagia menciptakan kebahagiaan dan kenyamanan di dalam rumah.

Jika hati seorang istri rapuh, akan mempengaruhi semangatnya dalam menghidupkan suasana bahagia dan harmonis dalam keluarganya. Jika psikologi seorang istri mulai terganggu akan mempengaruhi pula kepada psikologi anak-anaknya. Ia akan mudah marah, kata-kata yang terlontar mungkin adalah kata-kata yang sangat menyakitkan, karena kata-kata itulah yang mungkin mewakili luka-luka dalam hatinya.

Yang aku tau, biasanya orang-orang yang sering melontarkan kata-kata pedas, kata-kata tajam yang menohok hati keluar dari lisan seseorang yang penuh luka dan ia belum menemukan cara untuk menyembuhkan luka di hatinya.

Dear.. jika kalian menemukan seseorang seperti itu, yang pertama harus dilakukan adalah menyiapkan tameng dalam hati kita agar kata-kata itu tidak dapat menusuk hati kita. Kita harus terus ber-positive thinking sesulit apapun itu, yakin bahwa dia tidak bermaksud berkata seperti itu. Lalu, cobalah untuk mengerti dia, mungkin dihatinya masih ada luka dari kejahatan orang lain sehingga dia mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan sebagai wujud dari rasa sakit hatinya. Coba tenangkan dirimu, lalu keluarkan kata-kata yang dapat membuatnya merasa tenang. Jika tidak engkau temukan, cobalah keluarkan tatapan yang mampu menenangkan ia, tatap matanya seolah-olah kamu ingin mengatakan “Aku tau kamu sedang berada di posisi yang sulit. Aku mengerti.”

Menurutku, betapa pentingnya psikologi seorang ibu di dalam keluarga. Menjadi seorang ibu sangaatlah berat. Ya, setidaknya itu kata-kata yang sering kudengar dari ibu-ibu yang tangguh. Seorang wanita yang berhasil menjadi seorang ibu adalah wanita yang tangguh. Maka, menjadi seorang ibu adalah amanah yang luar biasa besar tanggung jawabnya. Dan peran yang sangat luar biasa hebat. Allah menaruh kepercayaan yan besar pada seorang ibu untuk menjadi malaikat pelindung bagi hamba-Nya yang masih mungil itu. Kelak, jika aku menjadi seorang ibu, aku akan mengambil peran besar itu, peran yang sangat luar biasa mulia, Allah sendiri yang memberikan job itu nantinya kepadaku, aku tidak boleh menyianyiakannya, kan? Apalagi tidak tanggung-tanggung, Allah mempercayakan surga anak-anakku kelak di bawah telapak kakiku. Sungguh peran yang luar biasa!
•••

Komentar

What's that?

Review Materi bahasa Jerman Kelas X Semester Genap!

Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Satu tugas besar sudah selesai, sudah berhasil melewatinya dengan alhamdulillah cukup baik. Tinggal melewati tahap selanjutnya dengan tugas dan rintangan yang lebih besar lagi (read: skripsi).  -  - Alhamdulillah.. sejak bulan Februari sampai bulan Mei ini ditugaskan  untuk melaksanakan PPL di SMAN 3 Cimahi. Bener-bener pertama kali harus terjun langsung ngeliat situasi kelas dan karakteristik siswa yang bermacam-macam itu engga pernah kebayang sebelumnya. Bener-bener pengalaman yang berharga banget. Bukan cuma belajar gimana cara mengajar tapi juga mendidik. Gimana kepribadian seorang guru ternyata berpengaruh besar banget dalam proses pendidikan siswa! Setiap harinya harus mikirin metode apa yang cocok untuk diterapin di kelas. Bukan cuma teori! Dan yang paling penting, harus extra sabaaar! :') - - - Pastinya banyak banget yang harus dipelajari lagi untuk layak menjadi guru, bukan cuma masalah administrasinya, te...

#Sepenggalcerita : Do'a Mama

Duluu sekali, ketika pertama kali aku memutuskankan untuk membenahi penampilanku dengan hijab, pernah terbesit di pikiranku, “Seandainya dulu mama sama ayah mewajibkan aku berkerudung dari kecil, mungkin ngga akan seberat ini untuk menyempurnakan hijabku.” Pernah ada sesal. Tapi kemudian bersyukur. Aku bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk akhirnya menyadari hal ini. Selama empat tahun aku merantau ke Bandung dan disanalah perjalanan spiritualku dimulai. Aku seakan diasingkan dari keluargaku, teman-temanku dan dari 'habits' ku dulu untuk memulai langkah baru dengan pandangan baru, petualangan baru dan orang-orang baru. Aku seperti gelas kosong yang akan diisi dengan air sedikit demi sedikit. Aku belajar banyak. Mindsetku mulai berubah. Cara pandangku tentang hidup ini juga berubah. Ilmu agama, ilmu tentang kehidupan aku dapatkan disana. Ilmu-ilmu yang mungkin tidak pernah kudapatkan dari mama dan ayah. Nasehat-nasehat yang mungkin juga tidak pernah diuc...

#Sudutpandang : Menjadi IBU [Part II]

Hallo! Masih bersama aku dan pikiranku. Dan masih dengan aku yang belum menjadi ibu, hehe. Tapi, pembahasan tentang peran ibu tetap menjadi topik yang menarik perhatianku. Entah mengapa. Aku pernah membahas tentang topik ini sebelumnya, sekitar dua tahun silam. Dan aku ingin menuangkan pikiranku kembali tentang menjadi seorang ibu… tentang wanita yang akhirnya menjadi seorang ibu. Aku memiliki kakak yang telah melahirkan dua orang anak yang lucu dan menggemaskan. Kakakku bekerja sebagai tenaga medis di sebuah rumah sakit. Ya, kakakku berkarir ditengah perannya sebagai seorang ibu. Beberapa berpendapat kurang setuju dengan apa yang dilakukan kakakku. Sempat beberapa kali anak kakakku sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Juga ada anaknya yang (dirasa) tumbuh kembangnya lamban. Kemana sasaran empuk untuk disalahkan? Tentu kakakku, ibu dari anak itu. Mungkin anak itu kurang diperhatikan, mungkin ibunya terlalu sibuk, dan lain sebagainya. Meskipun aku juga sempat mengiyakan ‘teori’...