Langsung ke konten utama

#SelftalkSoultalk : NEW POST IN 2018


 (HAPPY) NEW YEAR!!!~

Tahun yang baru telah tiba. Coba pejamkan matamu dan ucapkan berulang-ulang kalimat ini dengan perlahan “tahun sudah berganti.” Resapi kalimat itu.  Lalu apa makna pegantian tahun bagimu?
Tahun sudah berganti. Yap. Kuulangi lagi, tahun sudah berganti. Apa-apa yang ingin kamu perbaiki atau mungkin ingin kamu ulangi tak bisa lagi kamu lakukan di tahun 2017. Karena ‘ia’ sudah berlalu.
Aku ingin bercerita.
Pada pergantian malam tahun baru kemarin aku memutuskan melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan pada perayaan tahun baru sebelumnya, yaitu itikaf di masjid! Sebenernya aku lakuin ini bukan sebagai perayaan tahun baru. Aku pikir sebenernya faedah ngerayain pergantian tahun itu apa? Adakah yang harus dirayakan pada momen itu?
Bergantinya tahun bukan suatu hal yang perlu kita rayakan ataupun meluapkan kegembiraan dengan cara berfoya-foya. Ada sedikit kesedihan yang aku rasakan ketika mendengar tahun telah berganti. Apakah aku sudah memaksimalkan diri pada tahun 2017 kemarin? Ibadahku, ikhtiarku, langkah kakiku, tutur kataku, apakah semua itu sudah aku upayakan semaksimal mungkin? Aku sangat khawatir dengan hal itu. Apakah kamu merasakan hal yang sama?
Dan tahun telah berganti…
Apakah aku akan mengalami kemajuan atau malah kemunduran pada tahun ini? Terutama dalam jalan hijrahku. Hijrah kan bukan hanya satu saat saja, tapi setiap waktu. Maka, pergantian tahun seharusnya aku jadikan sebagai ajang bermuhasabah diri—pikirku saat itu.
Aku memutuskan untuk itikaf di masjid karena aku sadar  hatiku sedang sakit dan membutuhkan terapi. Aku orang yang sulit, satu nasehat saja tidak cukup untukku. Aku butuh ribuan kali nasihat dari orang-orang yang berbeda. Maka dari itu, pergi ke majelis ilmu adalah terapi untuk hatiku yang sedang sakit.
Ketika aku memutuskan itikaf di masjid, adikku ingin ikut ._. Entah karena apa,ya, kurasa sih dia tidak ingin jauh-jauh dari kakaknya~ memang sudah 5 tahun atau lebih belakangan ini aku tidak menganut merayakan tahun baru dengan foya-foya bersama teman-teman. Biasanya ada teman kakakku yang datang untuk bakar jagung atau ikan. Aku hanya ikut makan aja. Teman-temanku pun setipe denganku yang lebih betah di rumah dan mager-mageran~ *males gerak*
Waktu meminta ijin mama dan ayah untuk itikaf di masjid sempet aga takut juga bilangnya, takut ngga dibolehin. Tapi, Alhamdulillah mereka mengijinkan dengan mudahnyaa. Sepertinya a little Islamophobia di rumahku mulai mereda. Semoga aku bisa menjadi jalan hidayah untuk mereka. *aaamiiin!*
Malam itu, suara gemuruh petasan tidak begitu terdengar di dalam masjid, entah memang warga daerah sana yang juga tidak merayakan tahun baru atau memang sumber suara petasan dan kembang api nya cukup jauh dari masjid. Aku merasa aman. Seperti terlindung dari kegiatan sia-sia yang ada diluar sana. Terlindung dari perbuatan maksiat yang bisa saja kulakukan diluar sana. Sesaat aku jadi teringat dengan saudara-saudaraku di Palestina, Suriah dan orang-orang suku Rohingya. Adakah tempat aman yang mereka temukan disana? Adakah rasa aman yang sedang kurasakan saat itu juga dirasakan oleh mereka? (╥ ╥)
Melihat di beranda instagramku betapa banyak yang merayakan tahun baru. Meniup terompet, memakai topi kerucut dan menyalakan kembang api banyak-banyak. Padahal kalau kita tengok sedikit saja sejarah awal mula tradisi ini mungkin sangat menyayat hati. Lain kali mungkin aku akan share sejarah tradisi ini yang aku dapatkan dari berbagai sumber. Aku memang sedang tertarik mempelajari sejarah-sejarah islam.
Aku bersyukur, mindset ku kini telah berbeda. Ini bukan hal yang harus kurayakan, hatiku pun tak ada rasa iri karena kemarin tidak berfoya-foya bersama yang lain. Semoga Allah jaga rasa ini.
Saat itikaf kemarin, aku jadi rindu dengan masjid Daarut tauhid di Bandung dekat kosan ku dulu. Rindu suasananya, orang-orangnya termasuk para pemateri dakwah disana, fasilitasnya dan rindu jajanan depan masjidnya~ Semoga berkesempatan bisa kesana lagi.

Komentar

What's that?

Review Materi bahasa Jerman Kelas X Semester Genap!

Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Satu tugas besar sudah selesai, sudah berhasil melewatinya dengan alhamdulillah cukup baik. Tinggal melewati tahap selanjutnya dengan tugas dan rintangan yang lebih besar lagi (read: skripsi).  -  - Alhamdulillah.. sejak bulan Februari sampai bulan Mei ini ditugaskan  untuk melaksanakan PPL di SMAN 3 Cimahi. Bener-bener pertama kali harus terjun langsung ngeliat situasi kelas dan karakteristik siswa yang bermacam-macam itu engga pernah kebayang sebelumnya. Bener-bener pengalaman yang berharga banget. Bukan cuma belajar gimana cara mengajar tapi juga mendidik. Gimana kepribadian seorang guru ternyata berpengaruh besar banget dalam proses pendidikan siswa! Setiap harinya harus mikirin metode apa yang cocok untuk diterapin di kelas. Bukan cuma teori! Dan yang paling penting, harus extra sabaaar! :') - - - Pastinya banyak banget yang harus dipelajari lagi untuk layak menjadi guru, bukan cuma masalah administrasinya, te...

#Sepenggalcerita : Do'a Mama

Duluu sekali, ketika pertama kali aku memutuskankan untuk membenahi penampilanku dengan hijab, pernah terbesit di pikiranku, “Seandainya dulu mama sama ayah mewajibkan aku berkerudung dari kecil, mungkin ngga akan seberat ini untuk menyempurnakan hijabku.” Pernah ada sesal. Tapi kemudian bersyukur. Aku bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk akhirnya menyadari hal ini. Selama empat tahun aku merantau ke Bandung dan disanalah perjalanan spiritualku dimulai. Aku seakan diasingkan dari keluargaku, teman-temanku dan dari 'habits' ku dulu untuk memulai langkah baru dengan pandangan baru, petualangan baru dan orang-orang baru. Aku seperti gelas kosong yang akan diisi dengan air sedikit demi sedikit. Aku belajar banyak. Mindsetku mulai berubah. Cara pandangku tentang hidup ini juga berubah. Ilmu agama, ilmu tentang kehidupan aku dapatkan disana. Ilmu-ilmu yang mungkin tidak pernah kudapatkan dari mama dan ayah. Nasehat-nasehat yang mungkin juga tidak pernah diuc...

#Sudutpandang : Menjadi IBU [Part II]

Hallo! Masih bersama aku dan pikiranku. Dan masih dengan aku yang belum menjadi ibu, hehe. Tapi, pembahasan tentang peran ibu tetap menjadi topik yang menarik perhatianku. Entah mengapa. Aku pernah membahas tentang topik ini sebelumnya, sekitar dua tahun silam. Dan aku ingin menuangkan pikiranku kembali tentang menjadi seorang ibu… tentang wanita yang akhirnya menjadi seorang ibu. Aku memiliki kakak yang telah melahirkan dua orang anak yang lucu dan menggemaskan. Kakakku bekerja sebagai tenaga medis di sebuah rumah sakit. Ya, kakakku berkarir ditengah perannya sebagai seorang ibu. Beberapa berpendapat kurang setuju dengan apa yang dilakukan kakakku. Sempat beberapa kali anak kakakku sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Juga ada anaknya yang (dirasa) tumbuh kembangnya lamban. Kemana sasaran empuk untuk disalahkan? Tentu kakakku, ibu dari anak itu. Mungkin anak itu kurang diperhatikan, mungkin ibunya terlalu sibuk, dan lain sebagainya. Meskipun aku juga sempat mengiyakan ‘teori’...