(HAPPY) NEW
YEAR!!!~
Tahun yang baru telah tiba. Coba pejamkan matamu dan ucapkan berulang-ulang kalimat ini
dengan perlahan “tahun sudah berganti.” Resapi kalimat itu. Lalu apa makna pegantian tahun bagimu?
•
Tahun sudah berganti. Yap. Kuulangi lagi, tahun sudah
berganti. Apa-apa yang ingin kamu perbaiki atau mungkin ingin kamu ulangi tak
bisa lagi kamu lakukan di tahun 2017. Karena ‘ia’ sudah berlalu.
•
Aku ingin bercerita.
Pada pergantian malam tahun baru
kemarin aku memutuskan melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan pada
perayaan tahun baru sebelumnya, yaitu itikaf di masjid! Sebenernya aku lakuin
ini bukan sebagai perayaan tahun baru. Aku pikir sebenernya faedah ngerayain
pergantian tahun itu apa? Adakah yang harus dirayakan pada momen itu?
Bergantinya tahun bukan suatu hal yang
perlu kita rayakan ataupun meluapkan kegembiraan dengan cara berfoya-foya. Ada
sedikit kesedihan yang aku rasakan ketika mendengar tahun telah berganti.
Apakah aku sudah memaksimalkan diri pada tahun 2017 kemarin? Ibadahku,
ikhtiarku, langkah kakiku, tutur kataku, apakah semua itu sudah aku upayakan
semaksimal mungkin? Aku sangat khawatir dengan hal itu. Apakah kamu merasakan
hal yang sama?
•
Dan tahun telah berganti…
Apakah aku akan mengalami kemajuan atau
malah kemunduran pada tahun ini? Terutama dalam jalan hijrahku. Hijrah kan
bukan hanya satu saat saja, tapi setiap waktu. Maka, pergantian tahun
seharusnya aku jadikan sebagai ajang bermuhasabah diri—pikirku saat itu.
Aku memutuskan untuk itikaf di masjid
karena aku sadar hatiku sedang sakit dan
membutuhkan terapi. Aku orang yang sulit, satu nasehat saja tidak cukup
untukku. Aku butuh ribuan kali nasihat dari orang-orang yang berbeda. Maka dari
itu, pergi ke majelis ilmu adalah terapi untuk hatiku yang sedang sakit.
Ketika aku memutuskan itikaf di masjid,
adikku ingin ikut ._. Entah karena apa,ya, kurasa sih dia tidak ingin jauh-jauh
dari kakaknya~ memang sudah 5 tahun atau lebih belakangan ini aku tidak
menganut merayakan tahun baru dengan foya-foya bersama teman-teman. Biasanya
ada teman kakakku yang datang untuk bakar jagung atau ikan. Aku hanya ikut
makan aja. Teman-temanku pun setipe denganku yang lebih betah di rumah dan
mager-mageran~ *males gerak*
Waktu meminta ijin mama dan ayah untuk
itikaf di masjid sempet aga takut juga bilangnya, takut ngga dibolehin. Tapi, Alhamdulillah mereka mengijinkan dengan
mudahnyaa. Sepertinya a little Islamophobia di rumahku mulai mereda.
Semoga aku bisa menjadi jalan hidayah untuk mereka. *aaamiiin!*
•
Malam itu, suara gemuruh petasan tidak
begitu terdengar di dalam masjid, entah memang warga daerah sana yang juga
tidak merayakan tahun baru atau memang sumber suara petasan dan kembang api nya
cukup jauh dari masjid. Aku merasa aman. Seperti terlindung dari kegiatan
sia-sia yang ada diluar sana. Terlindung dari perbuatan maksiat yang bisa saja
kulakukan diluar sana. Sesaat aku jadi teringat dengan saudara-saudaraku di
Palestina, Suriah dan orang-orang suku Rohingya. Adakah tempat aman yang mereka
temukan disana? Adakah rasa aman yang sedang kurasakan saat itu juga dirasakan
oleh mereka? (╥ ﹏╥)
Melihat di beranda instagramku betapa
banyak yang merayakan tahun baru. Meniup terompet, memakai topi kerucut dan
menyalakan kembang api banyak-banyak. Padahal kalau kita tengok sedikit saja
sejarah awal mula tradisi ini mungkin sangat menyayat hati. Lain kali mungkin
aku akan share sejarah tradisi ini yang aku dapatkan dari berbagai sumber. Aku
memang sedang tertarik mempelajari sejarah-sejarah islam.
Aku bersyukur, mindset ku kini telah berbeda. Ini bukan hal yang harus kurayakan,
hatiku pun tak ada rasa iri karena kemarin tidak berfoya-foya bersama yang
lain. Semoga Allah jaga rasa ini.
•
Saat itikaf kemarin, aku jadi rindu
dengan masjid Daarut tauhid di Bandung dekat kosan ku dulu. Rindu suasananya,
orang-orangnya termasuk para pemateri dakwah disana, fasilitasnya dan rindu
jajanan depan masjidnya~ Semoga berkesempatan bisa kesana lagi.
Komentar
Posting Komentar