Langsung ke konten utama

#SUDUTPANDANG : FENOMENA MEDIA SOSIAL

Aku sering berdiskusi dengan teman-temanku mengenai tema apapun. Akhir-akhir ini aku sering melihat di media sosial, khusunya facebook banyak sekali orang mencurahkan isi hatinya disana. Ya, walaupun mungkin aku secara tidak langsung juga pernah melakukannya. Sebenarnya kebanyakan orang sudah tidak menggunakan facebook lagi di era sekarang ketimbang instagram. Aku mengunakannya hanya sewaktu-waktu jika ada kawan lama yang muncul lagi di permukaan beranda facebook-ku. Atau sekedar melihat kabar dari sanak saudara dan guru-guruku disana karena mereka lebih aktif menggunakan facebook dibanding media sosial lainnya.
Fenomena media sosial di jaman ini memang sangat dahsyat! Banyak orang yang tidak nampak berbondong-bondong berkomentar mengenai suatu berita atau kasus. Tidak jarang komentar itu hingga ribuan bahkan puluhan ribu. Komentar yang terlontar tidak sedikit yang mengeluarkan sumpah serapah, makian, cacian dan lain-lain yang lulus sensor.  Berita yang entah dari portal apa tersebar secara luas dibagikan ribuan kali, judgement-judgement yang sangat brutal. Kebencian-kebencian yang tersebar setiap saat. Benar-benar membuat orang-orang yang melihatnya berpikir, “Dunia ini begitu mengerikan!”. Padahal Allah menciptakan dunia ini dengan begitu indahnya, menciptakan rasa cinta, rasa aman di dalamnya. Miris banget litanya. Apakah hanya di negeri ku saja yang seperti ini?
Jika para bapak penggiat media sosial berdebat mengenai politik, agama ataupun masalah sosial yang terjadi di masyarakat, para ibu penggiat media sosial membicarakan kehidupan rumah tangganya disana. Membagikan cerita mengenai keharmonisan rumah tangganya, tak jarang mereka men-tag akun suaminya di facebook ataupun instagram. Membagikan tips-tips menjaga keharmonisan rumah tangga mereka. Mengeksploitasi kebahagiaan rumah tangga mereka di media sosial. Habis rekreasi, habis belanja, ke salon, ke bioskop dan lain-lain. Atau ada artikel mengenai rumah tangga, mereka tidak segan-segan men-tag akun suaminya, seakan-akan ingin mengatakan “Tuh, lihat! Tuh, baca!” Atau mencari perhatian suaminya dengan terus men-tag akun suaminya di depan khalayak semu. Menceritakan daily activities nya sebagai seorang istri, ibu, wanita karir berumah tangga yang masih sempat mengurus anak dan suami. Akhir-akhir ini ada istilah baru yang sering dibicarakan orang-orang, khususnya dikalangan ibu-ibu, yaitu pelakor a.k.a perebut suami orang. Tidak sedikit para ibu penggiat media sosial ini bergunjing mengenai istilah baru ini. Melaknat dan mengutuk pelaku-pelaku istilah ini. Para ibu penggiat media sosial ini apabila ada masalah dalam rumah tangganya pun membagikan permasalahannya ini ke media sosial. Mencari pembelaan, mencari simpati, mencari teman cerita. Semua orang akhirnya tau permasalahan dalam rumah tangganya tanpa harus menjadi tetangga atau kerabat dekatnya. Awalnya ia membagikan kebahagian pernikahannya, begitu beruntung dirinya, begitu hebat dirinya, begitu bahagianya ia. Lalu, seperti yang lupa pada postingan sebelumnya ia bisa mengubah postingannya menjadi sebuah ratapan, cacian, meminta belas kasihan dan bahkan mengumbar aib suaminya. Walaupun sebenarnya secara tersirat ia sedang membongkar aibnya sendiri. Miris!
Bahkan, salah satu teman kakakku pernah mengeksploitasi kisah tragis rumah tangganya dan viral, menjadi pergunjingan di media sosial karena di posting oleh akun gosip terdepan di media sosial. Banyak komentar yang tertulis untuk teman kakakku. Ribuan, puluhan ribu atau mungkin ratusan ribu, entahlah. Banyak yang mendukung dan menguatkan, tapi entahlah sepertinya dukungan itu tidak membawa ke arah positif, kata-katanya begitu arogan dan liar. Benar-benar ajaib memang akun ini. Menyebarkan aib orang lain, membuat viral permasalahan orang lain. Sudahlah di sebar senidir aib orang itu, akun ini membuat aib orang itu semakin tersebar luas lagi.. lebih luas lagi.. dan lagi. Miris! Miris! Miris!
Aku mencoba mengerti kenapa mereka melakukannya (para ibu penggiat media sosial). Karena yang aku amati para ibu ini bukan hanya dari kalangan yang tidak berpendidikan tinggi. Banyak dari mereka yang lulusan sarjana atau bahkan memiliki karir yang cemerlang. Hemm, apakah gelar sarjana dan karir yang cemerlang tidak cukup untuk menjadikan seorang wanita menjadi cerdas? Aku mencoba memahami dari berbagai sisi. Para wanita ini tidak hanya kukenal dalam dunia media sosial tetapi akupun mengenal mereka di dunia nyata. Berkomunikasi dengan mereka di dunia nyata. Dan, mereka tidak seperti itu ketika di dunia nyata. Tidak banyak bercerita dan terlihat berkelas ketika di dunia nyata. Hmmm… memang aku sadari terkadang beberapa orang terlihat lebih jujur ketika mereka di dunia maya. Tapi, aku tidak dapat meng-klaim yang mana diri mereka yang real.
Aku mempelajari ilmu psikologi sedikit-sedikit dari buku-buku yang aku baca dan dari perkuliahan, ya walaupun ilmu psikologi yang aku pelajari lebih kepada psikologi anak. Wanita, memang terlahir dengan kebutuhan berbicara yang lebih banyak. Bahkan dibandingkan laki-laki yang cerewet pun wanita pendiam membutuhkan berbicara lebih banyak. Jadi, mungkin aku pikir para Ibu penggiat media sosial ini tidak memiliki intensitas waktu yang cukup untuk berbicara. Berbicara apapun. Tentang keluh kesahnya, tentang apa yang hari ini ia lihat, ia dengar, ia alami, apapun. Mungkin para ibu yang kebanyakan Ibu Rumah Tangga ini memiliki kesempatan yang sedikit untuk berbagi cerita dengan pasangannya. Aku mencoba mengerti posisi IRT yang stay di rumah, mengurus anak, rumah dan kebutuhan suaminya, pasti sesekali merasa bosan atau seringkali ingin berbagi cerita, tetapi suami baru pulang sore atau bahkan malam hari dan berangkat kerja pagi hari. Maka, media sosial adalah sarana dirinya untuk memenuhi kebutuhan berbicara yang menjadi fitrahnya sebagai wanita.
Walaupun aku sedikit memaklumi mereka (para Ibu penggiat media sosial) tetapi aku tidak membenarkan perilaku mereka di media sosial. Ehm, sebenarnya tidak sedikit juga yang aku unfollow atau mungkin aku unfriend di facebook karena merasa terganggu dengan postingan-postingan mereka yang membuatku tidak tenang sebagai wanita muda yang belum menjadi seorang istri apalagi ibu ini hehehe A
Melihat fenomena ini aku sering bertanya sama temanku, “aduh, gue nanti gitu gak, yah? Ngeri deh kalo jadi ibu-ibu kayak gitu nanti.” K Agak takut juga sih, kalo sampe kebawa suasana dan kebawa jaman yang semakin tidak karuan ini. Naudzubillah!

Dan ini pesan untuk diriku di masa depan yang entah statusnya menjadi apa, semoga di masa ku nanti di media sosial tidak ada lagi orang-orang yang menebar kebencian, menebar kesusahan dan ketidak-tenangan jiwa. Semoga aku nanti nggak curhat-curhat di media sosial, tapi sering pergi ke majelis-majelis ilmu, mendekatkan diri pada Allah, sering baca buku dan sibuk mempersiapkan generasi penerus bangsa dan agama. AAAMIIIN! 

Komentar

What's that?

Review Materi bahasa Jerman Kelas X Semester Genap!

Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Satu tugas besar sudah selesai, sudah berhasil melewatinya dengan alhamdulillah cukup baik. Tinggal melewati tahap selanjutnya dengan tugas dan rintangan yang lebih besar lagi (read: skripsi).  -  - Alhamdulillah.. sejak bulan Februari sampai bulan Mei ini ditugaskan  untuk melaksanakan PPL di SMAN 3 Cimahi. Bener-bener pertama kali harus terjun langsung ngeliat situasi kelas dan karakteristik siswa yang bermacam-macam itu engga pernah kebayang sebelumnya. Bener-bener pengalaman yang berharga banget. Bukan cuma belajar gimana cara mengajar tapi juga mendidik. Gimana kepribadian seorang guru ternyata berpengaruh besar banget dalam proses pendidikan siswa! Setiap harinya harus mikirin metode apa yang cocok untuk diterapin di kelas. Bukan cuma teori! Dan yang paling penting, harus extra sabaaar! :') - - - Pastinya banyak banget yang harus dipelajari lagi untuk layak menjadi guru, bukan cuma masalah administrasinya, te...

#Sepenggalcerita : Do'a Mama

Duluu sekali, ketika pertama kali aku memutuskankan untuk membenahi penampilanku dengan hijab, pernah terbesit di pikiranku, “Seandainya dulu mama sama ayah mewajibkan aku berkerudung dari kecil, mungkin ngga akan seberat ini untuk menyempurnakan hijabku.” Pernah ada sesal. Tapi kemudian bersyukur. Aku bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk akhirnya menyadari hal ini. Selama empat tahun aku merantau ke Bandung dan disanalah perjalanan spiritualku dimulai. Aku seakan diasingkan dari keluargaku, teman-temanku dan dari 'habits' ku dulu untuk memulai langkah baru dengan pandangan baru, petualangan baru dan orang-orang baru. Aku seperti gelas kosong yang akan diisi dengan air sedikit demi sedikit. Aku belajar banyak. Mindsetku mulai berubah. Cara pandangku tentang hidup ini juga berubah. Ilmu agama, ilmu tentang kehidupan aku dapatkan disana. Ilmu-ilmu yang mungkin tidak pernah kudapatkan dari mama dan ayah. Nasehat-nasehat yang mungkin juga tidak pernah diuc...

#Sudutpandang : Menjadi IBU [Part II]

Hallo! Masih bersama aku dan pikiranku. Dan masih dengan aku yang belum menjadi ibu, hehe. Tapi, pembahasan tentang peran ibu tetap menjadi topik yang menarik perhatianku. Entah mengapa. Aku pernah membahas tentang topik ini sebelumnya, sekitar dua tahun silam. Dan aku ingin menuangkan pikiranku kembali tentang menjadi seorang ibu… tentang wanita yang akhirnya menjadi seorang ibu. Aku memiliki kakak yang telah melahirkan dua orang anak yang lucu dan menggemaskan. Kakakku bekerja sebagai tenaga medis di sebuah rumah sakit. Ya, kakakku berkarir ditengah perannya sebagai seorang ibu. Beberapa berpendapat kurang setuju dengan apa yang dilakukan kakakku. Sempat beberapa kali anak kakakku sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Juga ada anaknya yang (dirasa) tumbuh kembangnya lamban. Kemana sasaran empuk untuk disalahkan? Tentu kakakku, ibu dari anak itu. Mungkin anak itu kurang diperhatikan, mungkin ibunya terlalu sibuk, dan lain sebagainya. Meskipun aku juga sempat mengiyakan ‘teori’...