Langsung ke konten utama

My Experience My Adventure (Pengalaman Belajar Mendidik Selama 4 Bulan)

"Aku yakin engga ada yang namanya kebetulan di dunia ini, kecuali karena Allah sudah merencanakannya."


Aku  sejak SMA bisa dibilang 'ogah' untuk menjadi guru, karena aku melihat bebannya yang sangat beraat, harus disukai siswa, harus sabar, harus pinter, harus baik dan lain sebagainya. Tapi karena kehendak Allah, aku kuliah di UPI, salah satu universitas pencetak guru di Indonesia tanpa aku sadari. Aku baru menyadari bahwa tempat kuliahku adalah kampus keguruan, yang notabene nantinya akan ber-titel S.pd, ya setelah hasil tes SBMPTN-nya keluar. Dan aku baru sadar bahwa pilihan aku semuanya adalah di universitas pendidikan semua! UPI dan UNJ. Waktu itu mikirnya, yang penting ada jurusan bahasa Jermannya. Kenapa ngga milih UNPAD? Karena disana adanya sastra Jerman, sedangkan aku lebih tertarik dengan bahasa nya bukan seni atau sastra Jermannya.

Jurusan bahasa Jerman UPI itu hanya ada satu pilihan, yaitu hanya ada kependidikan aja, engga ada non- kependidikannya. Jadi, mau ngga mau, di semester2 akhir praktek lapangan nya, ya di sekolah, ya ngajar, ya PPL. Awalnya, dulu aga ngeri, panik, males gitu. Gimana kalo nanti di bully sama anak SMA kayak di Ftv2 yang anak-anaknya anak orang kaya, anak-anak nya ketua yayasan, pejabat dan lain-lain dan gurunya hanya bisa diam. But, that was just my imagine! Berlebihan banget, sih. Tontonannya tidak mendidik._."
Realitanya, anak-anak jaman sekarang lebih cerdas dan baaik2 kok. Mereka respect sama kami, yang hanya sebagai guru praktikan. Mereka mau mendengarkan dan mau belajar bareng juga.

Menjelang PPL itu sebenernya udah pasrah banget ke Allah, mau gimana gimananya, no expectation deh sama anak-anaknya. Rasa ngerinya udah mereda. Pokoknya yaudah deh, semoga jadi amal jariyah, sebagai bagian dalam perjalanan hidup aku dan bisa jadi bahan cerita ke anak-cucu nanti, haaahaaa

Minggu-minggu pertama pelaksanaan PPL masih semangat banget. Tapi, lama kelamaan semangatnya menurun, karena banyak tugas yang harus diselesaikan. Bukan cuma tugas PPL tapi juga si skrip- yang sweet (read:skripsi) yang juga tak kunjung selesai:'( Jadi kebagi fokus, deh.

Banyak banget hal yang aku dapetin selama beberapa bulan ini belajar menjadi seorang pendidik. PR-nya banyak banget untuk bisa jadi guru yang baik. Atau setidaknya guru yang layak, lah. Bukan cuma sekedar pinter di teori tapi juga baik dalam sikap dan sifat dari Pendidik itu sendiri. Yang dididik itu manusia, punya hati, punya mata dan telinga. Jadi, menyampaikan materi juga alangkah lebih baik dari hati ke hati (◡≦)


Mungkin ini merupakan rencana besar Allah untuk hidup aku. Aku yang dulu tidak memasukkan guru sebagai list cita-citaku, sekarang aku mulai menyukai profesi itu. Selama empat bulan ini, bukan aku yang mengajar siswa-siswa, tapi dari merekalah aku belajar. Melihat begitu banyak impian yang ingin mereka capai, dan begitu semangatnya mereka untuk mencapai itu.

"Aku ingin membagi apa yang bisa aku bagi pada orang lain. Aku ingin membagi hal-hal positif ke banyak orang dan aku ingin mengumpulkan pengalaman-pengalaman positif yang bisa aku bagi ke orang lain." Itu adalah kalimat yang pernah aku tulis dalam Motivationschreiben ketika melamar beasiswa ke Jerman. Dan keinginan aku untuk merealisasikan kalimat itu menjadi lebih besar setelah aku mengenal siswa-siswa ku lebih dekat...


Komentar

What's that?

Review Materi bahasa Jerman Kelas X Semester Genap!

Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Satu tugas besar sudah selesai, sudah berhasil melewatinya dengan alhamdulillah cukup baik. Tinggal melewati tahap selanjutnya dengan tugas dan rintangan yang lebih besar lagi (read: skripsi).  -  - Alhamdulillah.. sejak bulan Februari sampai bulan Mei ini ditugaskan  untuk melaksanakan PPL di SMAN 3 Cimahi. Bener-bener pertama kali harus terjun langsung ngeliat situasi kelas dan karakteristik siswa yang bermacam-macam itu engga pernah kebayang sebelumnya. Bener-bener pengalaman yang berharga banget. Bukan cuma belajar gimana cara mengajar tapi juga mendidik. Gimana kepribadian seorang guru ternyata berpengaruh besar banget dalam proses pendidikan siswa! Setiap harinya harus mikirin metode apa yang cocok untuk diterapin di kelas. Bukan cuma teori! Dan yang paling penting, harus extra sabaaar! :') - - - Pastinya banyak banget yang harus dipelajari lagi untuk layak menjadi guru, bukan cuma masalah administrasinya, te...

#Sepenggalcerita : Do'a Mama

Duluu sekali, ketika pertama kali aku memutuskankan untuk membenahi penampilanku dengan hijab, pernah terbesit di pikiranku, “Seandainya dulu mama sama ayah mewajibkan aku berkerudung dari kecil, mungkin ngga akan seberat ini untuk menyempurnakan hijabku.” Pernah ada sesal. Tapi kemudian bersyukur. Aku bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk akhirnya menyadari hal ini. Selama empat tahun aku merantau ke Bandung dan disanalah perjalanan spiritualku dimulai. Aku seakan diasingkan dari keluargaku, teman-temanku dan dari 'habits' ku dulu untuk memulai langkah baru dengan pandangan baru, petualangan baru dan orang-orang baru. Aku seperti gelas kosong yang akan diisi dengan air sedikit demi sedikit. Aku belajar banyak. Mindsetku mulai berubah. Cara pandangku tentang hidup ini juga berubah. Ilmu agama, ilmu tentang kehidupan aku dapatkan disana. Ilmu-ilmu yang mungkin tidak pernah kudapatkan dari mama dan ayah. Nasehat-nasehat yang mungkin juga tidak pernah diuc...

#Sudutpandang : Menjadi IBU [Part II]

Hallo! Masih bersama aku dan pikiranku. Dan masih dengan aku yang belum menjadi ibu, hehe. Tapi, pembahasan tentang peran ibu tetap menjadi topik yang menarik perhatianku. Entah mengapa. Aku pernah membahas tentang topik ini sebelumnya, sekitar dua tahun silam. Dan aku ingin menuangkan pikiranku kembali tentang menjadi seorang ibu… tentang wanita yang akhirnya menjadi seorang ibu. Aku memiliki kakak yang telah melahirkan dua orang anak yang lucu dan menggemaskan. Kakakku bekerja sebagai tenaga medis di sebuah rumah sakit. Ya, kakakku berkarir ditengah perannya sebagai seorang ibu. Beberapa berpendapat kurang setuju dengan apa yang dilakukan kakakku. Sempat beberapa kali anak kakakku sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Juga ada anaknya yang (dirasa) tumbuh kembangnya lamban. Kemana sasaran empuk untuk disalahkan? Tentu kakakku, ibu dari anak itu. Mungkin anak itu kurang diperhatikan, mungkin ibunya terlalu sibuk, dan lain sebagainya. Meskipun aku juga sempat mengiyakan ‘teori’...