"Aku yakin engga ada yang namanya kebetulan di dunia ini, kecuali karena Allah sudah merencanakannya."
Aku sejak SMA bisa dibilang 'ogah' untuk menjadi guru, karena aku melihat bebannya yang sangat beraat, harus disukai siswa, harus sabar, harus pinter, harus baik dan lain sebagainya. Tapi karena kehendak Allah, aku kuliah di UPI, salah satu universitas pencetak guru di Indonesia tanpa aku sadari. Aku baru menyadari bahwa tempat kuliahku adalah kampus keguruan, yang notabene nantinya akan ber-titel S.pd, ya setelah hasil tes SBMPTN-nya keluar. Dan aku baru sadar bahwa pilihan aku semuanya adalah di universitas pendidikan semua! UPI dan UNJ. Waktu itu mikirnya, yang penting ada jurusan bahasa Jermannya. Kenapa ngga milih UNPAD? Karena disana adanya sastra Jerman, sedangkan aku lebih tertarik dengan bahasa nya bukan seni atau sastra Jermannya.
Jurusan bahasa Jerman UPI itu hanya ada satu pilihan, yaitu hanya ada kependidikan aja, engga ada non- kependidikannya. Jadi, mau ngga mau, di semester2 akhir praktek lapangan nya, ya di sekolah, ya ngajar, ya PPL. Awalnya, dulu aga ngeri, panik, males gitu. Gimana kalo nanti di bully sama anak SMA kayak di Ftv2 yang anak-anaknya anak orang kaya, anak-anak nya ketua yayasan, pejabat dan lain-lain dan gurunya hanya bisa diam. But, that was just my imagine! Berlebihan banget, sih. Tontonannya tidak mendidik._."
Realitanya, anak-anak jaman sekarang lebih cerdas dan baaik2 kok. Mereka respect sama kami, yang hanya sebagai guru praktikan. Mereka mau mendengarkan dan mau belajar bareng juga.
Menjelang PPL itu sebenernya udah pasrah banget ke Allah, mau gimana gimananya, no expectation deh sama anak-anaknya. Rasa ngerinya udah mereda. Pokoknya yaudah deh, semoga jadi amal jariyah, sebagai bagian dalam perjalanan hidup aku dan bisa jadi bahan cerita ke anak-cucu nanti, haaahaaa
Minggu-minggu pertama pelaksanaan PPL masih semangat banget. Tapi, lama kelamaan semangatnya menurun, karena banyak tugas yang harus diselesaikan. Bukan cuma tugas PPL tapi juga si skrip- yang sweet (read:skripsi) yang juga tak kunjung selesai:'( Jadi kebagi fokus, deh.
Banyak banget hal yang aku dapetin selama beberapa bulan ini belajar menjadi seorang pendidik. PR-nya banyak banget untuk bisa jadi guru yang baik. Atau setidaknya guru yang layak, lah. Bukan cuma sekedar pinter di teori tapi juga baik dalam sikap dan sifat dari Pendidik itu sendiri. Yang dididik itu manusia, punya hati, punya mata dan telinga. Jadi, menyampaikan materi juga alangkah lebih baik dari hati ke hati (≧◡≦)
Mungkin ini merupakan rencana besar Allah untuk hidup aku. Aku yang dulu tidak memasukkan guru sebagai list cita-citaku, sekarang aku mulai menyukai profesi itu. Selama empat bulan ini, bukan aku yang mengajar siswa-siswa, tapi dari merekalah aku belajar. Melihat begitu banyak impian yang ingin mereka capai, dan begitu semangatnya mereka untuk mencapai itu.
"Aku ingin membagi apa yang bisa aku bagi pada orang lain. Aku ingin membagi hal-hal positif ke banyak orang dan aku ingin mengumpulkan pengalaman-pengalaman positif yang bisa aku bagi ke orang lain." Itu adalah kalimat yang pernah aku tulis dalam Motivationschreiben ketika melamar beasiswa ke Jerman. Dan keinginan aku untuk merealisasikan kalimat itu menjadi lebih besar setelah aku mengenal siswa-siswa ku lebih dekat...
Aku sejak SMA bisa dibilang 'ogah' untuk menjadi guru, karena aku melihat bebannya yang sangat beraat, harus disukai siswa, harus sabar, harus pinter, harus baik dan lain sebagainya. Tapi karena kehendak Allah, aku kuliah di UPI, salah satu universitas pencetak guru di Indonesia tanpa aku sadari. Aku baru menyadari bahwa tempat kuliahku adalah kampus keguruan, yang notabene nantinya akan ber-titel S.pd, ya setelah hasil tes SBMPTN-nya keluar. Dan aku baru sadar bahwa pilihan aku semuanya adalah di universitas pendidikan semua! UPI dan UNJ. Waktu itu mikirnya, yang penting ada jurusan bahasa Jermannya. Kenapa ngga milih UNPAD? Karena disana adanya sastra Jerman, sedangkan aku lebih tertarik dengan bahasa nya bukan seni atau sastra Jermannya.
Jurusan bahasa Jerman UPI itu hanya ada satu pilihan, yaitu hanya ada kependidikan aja, engga ada non- kependidikannya. Jadi, mau ngga mau, di semester2 akhir praktek lapangan nya, ya di sekolah, ya ngajar, ya PPL. Awalnya, dulu aga ngeri, panik, males gitu. Gimana kalo nanti di bully sama anak SMA kayak di Ftv2 yang anak-anaknya anak orang kaya, anak-anak nya ketua yayasan, pejabat dan lain-lain dan gurunya hanya bisa diam. But, that was just my imagine! Berlebihan banget, sih. Tontonannya tidak mendidik._."
Realitanya, anak-anak jaman sekarang lebih cerdas dan baaik2 kok. Mereka respect sama kami, yang hanya sebagai guru praktikan. Mereka mau mendengarkan dan mau belajar bareng juga.
Menjelang PPL itu sebenernya udah pasrah banget ke Allah, mau gimana gimananya, no expectation deh sama anak-anaknya. Rasa ngerinya udah mereda. Pokoknya yaudah deh, semoga jadi amal jariyah, sebagai bagian dalam perjalanan hidup aku dan bisa jadi bahan cerita ke anak-cucu nanti, haaahaaa
Minggu-minggu pertama pelaksanaan PPL masih semangat banget. Tapi, lama kelamaan semangatnya menurun, karena banyak tugas yang harus diselesaikan. Bukan cuma tugas PPL tapi juga si skrip- yang sweet (read:skripsi) yang juga tak kunjung selesai:'( Jadi kebagi fokus, deh.
Banyak banget hal yang aku dapetin selama beberapa bulan ini belajar menjadi seorang pendidik. PR-nya banyak banget untuk bisa jadi guru yang baik. Atau setidaknya guru yang layak, lah. Bukan cuma sekedar pinter di teori tapi juga baik dalam sikap dan sifat dari Pendidik itu sendiri. Yang dididik itu manusia, punya hati, punya mata dan telinga. Jadi, menyampaikan materi juga alangkah lebih baik dari hati ke hati (≧◡≦)
Mungkin ini merupakan rencana besar Allah untuk hidup aku. Aku yang dulu tidak memasukkan guru sebagai list cita-citaku, sekarang aku mulai menyukai profesi itu. Selama empat bulan ini, bukan aku yang mengajar siswa-siswa, tapi dari merekalah aku belajar. Melihat begitu banyak impian yang ingin mereka capai, dan begitu semangatnya mereka untuk mencapai itu.
"Aku ingin membagi apa yang bisa aku bagi pada orang lain. Aku ingin membagi hal-hal positif ke banyak orang dan aku ingin mengumpulkan pengalaman-pengalaman positif yang bisa aku bagi ke orang lain." Itu adalah kalimat yang pernah aku tulis dalam Motivationschreiben ketika melamar beasiswa ke Jerman. Dan keinginan aku untuk merealisasikan kalimat itu menjadi lebih besar setelah aku mengenal siswa-siswa ku lebih dekat...
Komentar
Posting Komentar